Kerusakan Bungkil Kacang Kedelai (BKK) di Lapangan

bungkil kacang kedelai
Daftar isi

Bahan pakan adalah segala sesuatu yang dipakai untuk menyusun formulasi pakan. Kandungan nutrisi dalam bahan pakan merupakan salah satu aspek penting dalam pemilihan bahan pakan. Nutrisi yang cukup dan seimbang mampu menunjang performa ternak yang dipelihara secara optimal. Salah satu bahan pakan yang memiliki nilai nutrisi yang baik adalah bungkil kacang kedelai (BKK). BKK memiliki kandungan protein yang tinggi dan asam amino yang seimbang. Namun, beberapa kasus di lapangan menunjukkan BKK yang tersedia kandungan nutrisinya bervariasi. Penurunan kualitas nutrisi salah satunya disebabkan kesalahan selama proses produksi maupun kesalahan selama masa penyimpanan.

bungkil kacang kedelai
 Gambar 1. Bungkil Kacang Kedelai (BKK) (Sumber: Dok. Medion)

A. Sekilas tentang Bungkil Kacang Kedelai

    Bungkil kacang kedelai (BKK) atau disebut juga soybean meal (SBM) merupakan bahan pakan sumber protein nabati yang berasal dari hasil samping pengolahan minyak kedelai yang telah mengalami proses pengeringan. Kandungan protein kasar BKK sebesar 43 – 48%, mampu memenuhi kebutuhan protein unggas hingga 50% (Sitompul, 2004). Selain itu, kecernaan lysine pada BKK menunjukkan nilai tertinggi (91%) dibandingkan bahan pakan sumber protein lainnya (Willis, 2003). Penggunaan BKK dalam pakan ayam broiler sebesar 15 – 30% dan pada ayam layer sebesar 15 – 20% (Wina, 1999). BKK mengandung zat antinutrisi yaitu trypsin inhibitor yang mengganggu kinerja enzim tripsin sehingga kecernaan protein berkurang. Kandungan trypsin inhibitor pada BKK akan hilang ketika proses pemanasan sehingga aman dikonsumsi unggas. Tabel 1. dan 2. menunjukkan komposisi nutrisi dan asam amino BKK.

    tabel kandungan nutrisi bkk
    komposisi asam amino bkk
    4
    Grafik 1. Tren Kadar Protein Kasar BKK – Periode Juli 2025 s.d. Juni 2026 (Sumber: Laboratorium Medion, 2026)

      B. Fakta BKK di Lapangan

      BKK merupakan bahan pakan yang sebagian besar berasal dari luar negeri (impor). Indonesia merupakan negara pengimpor terbesar kedua di dunia setelah Uni Eropa. Beberapa negara penghasil BKK diantaranya Amerika Serikat, Argentina, Brazil, China dan India. Perbedaan negara asal BKK menyebabkan perbedaan mutu yang disebabkan proses pembuatan (suhu pemanasan) dan manajemen penyimpanan yang berbeda pada setiap negara produsen. Tabel 3 menunjukkan perbedaan komposisi kimia BKK dari negara produsen yang berbeda.

      komposisi kimia bkk asal negara yang berbeda

      Fakta di lapangan menunjukkan hal yang sama. Berdasarkan data hasil uji sampel BKK yang diujikan protein kasar ke Laboratorium Medion (Grafik 1.) pada bulan Juli 2025 – Juni 2026 menunjukkan dari total 119 sampel, terdapat 22 sampel (18,5%) yang tidak sesuai standar. Terdiri dari 2 sampel lebih dari standar dan 20 sampel lainnya kurang dari standar. Variasi nutrisi pada BKK menyebabkan nutrisi yang diberikan pada ternak tidak tepat. Sehingga perlu ditinjau ulang formulasi yang digunakan agar sesuai dengan kebutuhan ternak. Fakta lainnya ialah BKK merupakan bahan pakan impor sehingga harga BKK cenderung mengalami kenaikan dikarenakan perbedaan nilai mata uang dan faktor – faktor lain seperti perang dagang sehingga penggunaan BKK dalam formulasi perlu dimaksimalkan melalui pemilihan BKK dengan kualitas yang baik (tidak rusak). Kerusakan pada bahan baku pakan menyebabkan penurunan nilai nutrisi seperti protein pada BKK. Penurunan nilai protein kasar menyebabkan penggunaan bahan pakan sumber protein perlu direformulasi agar target nutrisi tetap tercapai. Tabel 4. menunjukkan perbandingan formulasi pakan asal BKK yang berbeda kandungan protein kasarnya (46%, 43%, dan 40%). Penurunan protein kasar menyebabkan penggunaan BKK semakin meningkat sehingga biaya pakan menjadi semakin mahal.

      perbandingan formulasi pakan asal bkk dengan kadar protein kasar yang berbeda
      7
      Gambar 2. Asiges, Asam Organik untuk mengoptimalkan Kecernaan Nutrisi

      C. Faktor Penyebab Kerusakan BKK

        Kerusakan BKK menyebabkan kerugian bagi peternak baik dari segi ekonomi maupun nutrisi yang ada di dalamnya. Beberapa kerusakan pada BKK dapat dikenali melalui pancaindra atau pengujian laboratorium. Berikut beberapa faktor penyebab kerusakan BKK dan ciri – cirinya.  

        1. Overheating (Proses Pemanasan yang Berlebihan)

        BKK diperoleh melalui beberapa tahapan diantaranya pengambilan lemak, pemanasan, dan penggilingan (Boniran, 1999). Proses pemanasan mengakibatkan zat antinutrisi berupa trypsin inhibitor rusak sehingga BKK aman dikonsumsi unggas. Namun, pemanasan yang berlebih mengakibatkan perubahan warna menjadi kecoklatan (browning) pada BKK yang dihasilkan. Perubahan warna ini disebut sebagai reaksi Maillard (Gambar 3).

        reaksi maillard akibat overheating
         Gambar 3. Reaksi Maillard akibat Overheating (Sumber: https://www.intechopen.com)

        Reaksi Maillard terjadi akibat reaksi gula pada BKK bereaksi dengan gugus amina pada asam amino atau protein. Reaksi Maillard mengakibatkan penurunan kecernaan lysine bahkan mengurangi kecernaan asam amino total. Suhu optimal pemanasan dalam pengolahan BKK adalah 140°C selama 120 menit atau lebih, 150°C selama 60 menit atau 160°C selama 30 menit (Hemetsberger, et al., 2021).

        2. Kadar Air BKK Terlalu Tinggi

          Kadar air merupakan persen kelembapan sampel setelah kehilangan bobot karena pemanasan pada 105 °C selama 3 jam. Umumnya kadar air yang disarankan dalam penyimpanan BKK 12% (SNI, 2013). Kadar air yang terlalu tinggi memicu tumbuhnya jamur pada BKK sehingga menyebabkan umur penyimpanan semakin pendek. Kelebihan kadar air juga menyebabkan BKK menggumpal (Gambar 4), sehingga ketika dicampurkan dalam mixer menyebabkan waktu pencampuran semakin lama dan tidak homogen. Pakan yang tidak homogen menyebabkan nutrisi yang dikonsumsi setiap ternak tidak sama.

          BKK Menggumpal
          Gambar 4. BKK Menggumpal (Sumber: Dok. Medion)

          BKK merupakan bahan pakan yang dapat menyerap air dari udara di sekitarnya. Kadar air dalam BKK merupakan akumulasi dari suhu dan kelembapan udara di lingkungan sekitar. Semakin panas dan lembap tempat penyimpanan, mengakibatkan kadar air dalam BKK semakin tinggi. Berikut Tabel 5. yang menunjukkan perkiraan lama masa simpan BKK. Umumnya BKK yang memiliki kadar air <12% dapat disimpan selama 6 bulan.

          3. Manajemen Penyimpanan BKK Kurang Tepat

          Perlu diingat bahwa BKK merupakan bahan pakan impor sehingga dalam pengiriman dari negara produsen hingga sampai di tangan peternak di Indonesia membutuhkan waktu yang cukup lama. Pengiriman BKK dari negara asalnya membutuhkan waktu 5 – 6 minggu. Lamanya proses penyimpanan menyebabkan perubahan fisik (perubahan warna dan bau), kimia (penurunan kualitas nutrisi) dan biologi (tumbuhnya jamur).

          Beberapa aspek yang berkaitan dengan manajemen penyimpanan yang kurang tepat diantaranya tempat penyimpanan yang lembap (RH>70%) dan suhu yang tinggi (>34°C) menyebabkan kadar air BKK meningkat sehingga rentan ditumbuhi jamur dan menurunkan masa simpan, adanya hama/serangga dalam tempat penyimpanan menyebabkan penyusutan dan penurunan nutrisi BKK.

          4. Kontaminasi/ Pemalsuan BKK

            Pemalsuan bahan pakan adalah tindakan mengganti sebagian bahan asli dengan bahan palsu. BKK merupakan bahan pakan yang tidak mudah mengalir sehingga BKK kerap menempel pada dinding silo sehingga pada beberapa kasus dicampurkan bentolit supaya tidak berdebu dan mudah mengalir. Bentonit kering mempunyai sifat fisik berupa partikel butiran halus yang berwarna kuning muda, putih dan abu-abu yang apabila dilihat secara kasat mata sulit dibedakan. Pemalsuan dan pencampuran menyebabkan perubahan komposisi dan menurunkan nilai nutrisi di dalamnya. Selain itu, pada beberapa pengujian menunjukkan protein kasar BKK sudah sesuai standar namun secara performa justru mengalami penurunan produksi. Hal ini terjadi akibat kecernaan protein kasar yang berkurang akibat kualitas yang kurang baik. 

            D. Pencegahan dan Penanganan Kerusakan BKK

            Kerusakan BKK meyebabkan kerugian yang cukup besar pada peternakan sebab sekitar 70% biaya dalam industri peternakan merupakan biaya pakan. Penurunan kualitas dan kuantitas selama masa penyimpanan kerap terjadi akibat kesalahan selama masa penyimpanan. Guna mengurangi kerugian akibat kerusakan BKK selama penyimpanan, upaya pencegahan dan penanganan dapat dilakukan dengan cara penerapan manajemen penyimpanan bahan baku yang tepat. Berikut beberapa saran pencegahan dan penanganan BKK yang dapat dilakukan : 

            1. Kontrol kualitas BKK secara rutin 

            Pengecekan mutu dilakukan secara rutin bahkan sejak awal kedatangan bahan baku. Pemeriksaan makroskopis seperti warna, bau dan tekstur dapat digunakan sebagai indikator awal penilaian BKK. Catat informasi penting pada saat kedatangan BKK seperti suplier, nomor batch, tanggal kedatangan dan hasil penimbangan. Hal ini berguna untuk memperkirakan lama penyimpanan dan mempermudah penelusuran ketika terjadi kasus. Kontrol kadar air BKK secara rutin untuk memastikan kadar air tidak melebihi 12%. Pengecekan kadar air dapat menggunakan spectrameter (Gambar 5) atau pengujian kadar air di laboratorium.

            11
             Gambar 5. Spectrameter untuk Mengukur Kadar Air (Sumber: Dok. Medion)

            Jika terlanjur mendapatkan BKK dengan kadar air >12% segera keringkan dengan cara dijemur di bawah sinar matahari atau menggunakan alat pengering khusus. Apabila keduanya tidak memungkinkan, maka lakukan pengaturan stok dan gunakan BKK sesegera mungkin. Jika perlu tambahkan mold inhibitor seperti Fungitox yang mengandung asam organik dan kompleks mineral silikat yang mampu menghambat pertumbuhan jamur dan menurunkan efek mikotoksikosis.

            B. Manajemen gudang penyimpanan 

            Gudang penyimpanan hendaknya memperhatikan tiga hal yaitu sirkulasi udara, kelembapan dan suhu di dalamnya. Sirkulasi udara dimaksudkan agar BKK tetap kering dan tidak lembap sehingga tidak ditumbuhi jamur. Beberapa cara menambah sirkulasi udara seperti memberi jarak antar baris, penggunaan pallet sebagai alas dan penambahan exhaust (kipas). Kelembapan diusahakan tidak lebih dari 70% dan suhu di dalam gudang penyimpanan 30 – 34°C. Gunakan sistem First In First Out (FIFO) dan First Eid First Out (FEFO) artinya BKK yang datang pertama digunakan pertama namun apabila terdapat BKK yang mulai rusak dahulukan BKK yang rusak meskipun baru datang. 

            C. Sanitasi dan fumigasi 

            Gudang penyimpanan hendaknya dijaga kebersihannya agar tidak menjadi tempat perkembangbiakan tikus maupun serangga. Lakukan fumigasi dengan cara menutup tumpukan BKK dengan plastik lalu semprotkan fumigan seperti sulfuryl flouride sesuai dosis. Pada saat gudang kosong lakukan pembersihan secara menyeluruh dan semprotkan desinfektan seperti Antisep untuk membasmi bibit penyakit.

            D. Back up kekurangan nutrisi 

            BKK merupakan komponen penting dalam penyusunan formulasi pakan unggas. Penggunaan BKK yang kualitasnya kurang baik menyebabkan nilai nutrisi hasil formulasi tidak tepat. Asam amino lysine yang rusak akibat pemanasan berlebihan perlu untuk di-back up sebab lysine merupakan asam amino pembatas pada ayam. Defisiensi lysine dapat menurunkan berat badan, menghambat pertumbuhan, menurunkan sistem imun ayam dan menurunkan produktivitas. Penambahan premix seperti Mix Plus mengandung feed suplement dan feed additive sebagai back up nutrisi yang hilang sehingga performa unggas tetap optimal.

            Demikian sekilas info tentang kerusakan bungkil kacang kedelai di lapangan. Semoga bermanfaat dan menambah wawasan kita. Salam.

            Topik Terkait

            Bagikan Artikel:
            Berlangganan sekarang

            Update informasi terkini seputar peternakan dan hewan kesayangan.

            Artikel Lainnya

            Cari Informasi yang Anda Butuhkan