Pak Surya – Payakumbuh
Contoh ektoparasit tungau pada ayam dan penanganannya.
Jawab :
Salah satu permasalahan yang sering dijumpai pada peternakan ayam adalah infestasi ektoparasit. Tungau merupakan salah satu contoh ektoparasit tersebut. Keberadaan ektoparasit pada tubuh ayam tentu akan berdampak terhadap penurunan produktivitas. Berikut contoh tungau pada ayam:
Pandalura cirrata
Salah satu jenis tungau bulu (feather mite) yang hidup di permukaan bulu ayam. Tungau ini memanfaatkan serpihan keratin, jaringan mati, maupun material organik yang terdapat pada bulu sebagai sumber makanannya.
Pada infestasi ringan, keberadaan tungau ini umumnya tidak menimbulkan gejala yang nyata. Namun apabila populasinya meningkat, ayam dapat menunjukkan perilaku sering mematuk bulu (preening) secara berlebihan, tampak gelisah, dan kualitas bulu menjadi kurang baik. Pada ayam petelur, kondisi tersebut dapat meningkatkan stres sehingga secara tidak langsung memengaruhi performa produksi.
Glaucalges attenuatus
Kelompok tungau bulu yang hidup di sela-sela bulu ayam. Jumlah yang sedikit biasanya tidak menyebabkan gangguan berarti. Akan tetapi, infestasi berat dapat menyebabkan kerusakan bulu sehingga kemampuan bulu dalam melindungi tubuh ayam menjadi berkurang.
Megninia ginglymura
Tungau ini hidup di bagian pangkal maupun batang bulu, terutama pada bulu sayap dan ekor.
Pada infestasi berat, tungau dapat menyebabkan kerusakan struktur bulu sehingga bulu menjadi mudah patah dan rontok. Ayam akan lebih sering menggaruk tubuh, mematuk bulunya sendiri, dan tampak gelisah.
Pandalura cirrata
Salah satu jenis tungau bulu (feather mite) yang hidup di permukaan bulu ayam. Tungau ini memanfaatkan serpihan keratin, jaringan mati, maupun material organik yang terdapat pada bulu sebagai sumber makanannya. Setelah fertilisasi, betina akan meletakkan telur pada bulu ayam sehingga siklus hidup dapat berlanjut.
Pada ayam petelur, kondisi tersebut dapat meningkatkan stres sehingga secara tidak langsung memengaruhi performa produksi.




Siklus Hidup Tungau Bulu pada Ayam
Feather mites (tungau bulu) memiliki siklus hidup langsung (direct life cycle), sehingga seluruh tahap perkembangan mulai dari telur hingga dewasa berlangsung pada satu inang yang sama. Penularan terutama terjadi melalui kontak langsung antar ayam.
Siklus hidup dimulai ketika tungau betina yang telah kawin meletakkan telur pada batang bulu (rachis), cabang bulu (barbs), atau anak cabang bulu (barbules). Telur tersebut dilekatkan menggunakan zat perekat sehingga tetap menempel kuat pada bulu hingga menetas. Setelah menetas, telur menghasilkan larva yang hanya memiliki enam kaki. Larva mulai bergerak di antara struktur bulu dan memanfaatkan serpihan keratin, sel kulit mati, minyak bulu, serta material organik lain yang terdapat pada permukaan bulu sebagai sumber nutrisi.
Selanjutnya larva mengalami pergantian kulit (molting) dan berkembang menjadi protonimfa, yaitu stadium nimfa pertama yang telah memiliki delapan kaki. Pada tahap ini ukuran tubuh bertambah dan aktivitasnya meningkat. Protonimfa kemudian kembali mengalami molting menjadi tritonimfa, yang secara morfologi sudah menyerupai tungau dewasa, tetapi organ reproduksinya belum berkembang sempurna. Setelah mengalami pergantian kulit terakhir, tritonimfa berubah menjadi tungau dewasa (imago), yang kemudian melakukan perkawinan di atas tubuh inang. Betina yang telah dibuahi akan kembali menghasilkan telur sehingga siklus hidup terus berulang sepanjang tungau berada pada tubuh ayam.
Penularan
Penularan dapat terjadi secara horizontal, yakni melalui kontak langsung antara ayam yang terinfestasi dengan ayam yang sehat, misalnya saat ayam saling bersentuhan atau dipelihara dalam kandang dengan kepadatan tinggi. Selain itu, kutu juga dapat menyebar secara tidak langsung melalui lingkungan dan peralatan kandang yang terkontaminasi, seperti litter, keranjang angkut, maupun peralatan pemeliharaan. Penyebaran kutu akan berlangsung lebih cepat pada peternakan dengan sanitasi dan biosekuriti yang kurang baik serta adanya kontak dengan burung liar atau unggas lain yang berpotensi menjadi pembawa kutu.
Pengendalian
Pengendalian tungau pada ayam memerlukan pendekatan terpadu yang mengombinasikan manajemen pemeliharaan, sanitasi lingkungan, pemantauan rutin, dan penggunaan antiektoparasit yang tepat. Pendekatan ini bertujuan untuk menekan populasi tungau, mencegah infestasi berulang, serta meminimalkan dampak terhadap kesehatan dan produktivitas ayam.
- Dalam mengurangi bibit penyakit yang ada di area peternakan, penuhi terlebih dahulu manajemen istirahat kandang yang dilakukan minimal selama 2 minggu dihitung setelah kandang sudah dalam keadaan bersih dan didesinfeksi.
- Melakukan sanitasi kandang (menggunakan Antisep, Zaldes, Formades atau Sporades) dan peralatannya. Batasi jumlah tamu yang masuk ke area kandang, mencegah hewan liar dan hewan peliharaan masuk ke lingkungan kandang. Peralatan peternakan (tempat ransum, tempat minum) dicuci sampai bersih.
- Ciptakan suasana nyaman bagi ayam. Hindarkan ayam dari stres dengan memperhatikan suhu, kelembapan, sirkulasi udara, kadar amonia dan kepadatan di dalam kandang, serta menerapkan sistem all in all out.
- Lakukan inspeksi teratur minimal 2 minggu sekali pada kandang terhadap ada atau tidaknya infestasi ektoparasit.
- Pemberian antiektoparasit spray Delatrin untuk menekan populasi ektoparasit di kandang
Penanganan
Penanganan utama untuk membunuh ektoparasit seperti kutu, caplak, pinjal, tungau ialah dengan menggunakan obat anti kutu. Contohnya produk yang bisa digunakan yaitu Kututox-S atau Kututox Oral dan Delatrin. Aplikasi Kututox-S dengan cara ditaburkan pada permukaan dan lipatan-lipatan tubuh hewan, lantai kandang, sela-sela dan dinding kandang . Pemberian Kututox Oral dengan cara mencampurkan air minum dengan 0,04 ml per kg berat badan Kututox Oral, diberikan selama 2 hari berturut-turut dan diulangi setelah 2 minggu. Delatrin dapat diaplikasikan secara spray dalam kandang dengan mencampurkan 10 ml Delatrin dengan 20 liter air.
