Bpk. Maulana – By Email
Sering kali penyakit Mycoplasma gallisepticum (MG) dan Mycoplasma synoviae (MS) dianggap serupa karena sama-sama disebabkan oleh bakteri Mycoplasma. Sebenarnya, apa perbedaan kedua agen tersebut dan bagaimana dampaknya terhadap peternakan ayam?
Jawab:
Terima kasih Bapak Maulana atas pertanyaan yang disampaikan. Penyakit Mycoplasmosis merupakan salah satu penyakit penting yang sering menimbulkan kerugian ekonomi pada industri perunggasan. Meskipun tingkat mortalitasnya tidak selalu tinggi, penyakit ini dapat menyebabkan penurunan performa produksi, penurunan efisiensi penggunaan pakan, peningkatan biaya pengobatan, serta meningkatkan kerentanan unggas terhadap infeksi penyakit lainnya. Dua spesies Mycoplasma yang paling berperan dalam industri perunggasan adalah Mycoplasma gallisepticum (MG) dan Mycoplasma synoviae (MS).
Di lapangan, penyakit pernapasan kronis atau Chronic Respiratory Disease (CRD) yang disebabkan oleh Mycoplasma gallisepticum (MG) masih menjadi tantangan besar bagi peternak. Berdasarkan data Technical Education and Consultation (TEC) Medion pada pemantauan penyakit unggas nasional, CRD dilaporkan termasuk penyakit dengan tingkat kejadian tertinggi. Penyakit CRD menempati peringkat pertama pada ayam broiler maupun layer. Hal ini menunjukkan bahwa gangguan respirasi akibat infeksi Mycoplasma masih menjadi ancaman utama pada peternakan unggas di Indonesia.
Etilogi Mycoplasma
Mycoplasma merupakan bakteri dari kelas Mollicutes, ordo Mycoplasmatales, dan famili Mycoplasmataceae. Bakteri ini memiliki karakteristik khas berupa tidak adanya dinding sel (cell wall), sehingga berbeda dengan sebagian besar bakteri lainnya. Ketiadaan dinding sel menyebabkan Mycoplasma mempunyai bentuk yang pleomorfik (bervariasi) dan Mycoplasma tidak dapat dibunuh dengan antibiotik yang bekerja merusak atau menghambat pembentukan dinding sel, seperti golongan β-laktam (penisilin dan sefalosporin).
Pada unggas, spesies yang paling penting secara ekonomis adalah Mycoplasma gallisepticum (MG) dan Mycoplasma synoviae (MS). M. gallisepticum terutama menyerang sistem respirasi dan merupakan penyebab utama Chronic Respiratory Disease (CRD), sedangkan M. synoviae umumnya menyerang persendian, sistem respirasi, dan saluran reproduksi sehingga dapat menyebabkan infectious synovitis dan gangguan kualitas telur.

Secara morfologi, bakteri Mycoplasma berukuran sangat kecil, berkisar antara 0,2–0,8 µm, dan memiliki membran sel yang mengandung sterol. Keberadaan sterol pada membran sel berperan penting dalam menjaga stabilitas struktur bakteri karena tidak adanya dinding sel. Pada media kultur padat, koloni Mycoplasma menunjukkan morfologi khas berupa “fried egg appearance” (gambaran telur mata sapi), yang ditandai dengan bagian tengah koloni tampak lebih padat atau opak, sedangkan bagian tepinya tampak lebih transparan. Gambaran ini terjadi karena sebagian sel tumbuh menembus ke dalam media, sementara sebagian lainnya berkembang di permukaan media. Mycoplasma memiliki kemampuan antigenic variation, yaitu perubahan struktur antigen permukaan secara terus-menerus untuk menghindari respon imun inang. Mekanisme ini menyebabkan infeksi sering berlangsung kronis dan sulit dieliminasi secara sempurna dari populasi unggas.
Penularan Penyakit
Penularan Mycoplasma pada unggas dapat terjadi secara vertikal maupun secara horizontal. Penularan vertikal dapat terjadi melalui telur (in ovo) maupun selama perkembangan embrio. Penularan kepada anak ayam (egg transmission) diduga terjadi sebagai akibat adanya infeksi saluran pernapasan pada induk ayam, yang berkaitan dengan letak kantung udara abdominal yang berdekatan dengan oviduk. Kondisi tersebut memungkinkan agen penyakit mencapai saluran reproduksi dan menginfeksi telur yang sedang berkembang.

Penularan horizontal dapat terjadi melalui udara, penularan di hatchery (tempat penetasan), kontak langsung dengan ayam yang terinfeksi, maupun secara tidak langsung melalui faktor lingkungan dan benda perantara (fomites). Fomites seperti tempat pakan, tempat minum, peralatan kandang, serta benda lain yang terkontaminasi dapat menjadi sumber penting penyebaran penyakit. Sisa bahan yang tertinggal pada tempat pakan menjadi salah satu faktor utama dalam penularan horizontal. Selain itu, pakan yang telah terkontaminasi juga dapat menjadi media penyebaran penyakit melalui lingkungan.
Pada hatchery, penularan dapat terjadi melalui serpihan atau sisa telur pecah yang terkontaminasi dan kemudian menjadi sumber infeksi bagi anak ayam lain. Penelitian mengenai transmisi mycoplasma menunjukkan bahwa berbagai strain mycoplasma dapat menyebabkan penurunan produksi telur, peningkatan kegagalan menetas akibat kematian embrio, serta penurunan fertilitas.
Mycoplasma Gallicepticum
Mycoplasma gallisepticum (MG) merupakan agen utama penyebab penyakit respirasi kronis atau Chronic Respiratory Disease (CRD) pada ayam. Bakteri ini terutama menyerang sistem pernapasan dan menyebabkan gangguan respirasi dengan tingkat keparahan yang bervariasi, tergantung pada kondisi kesehatan ayam, umur, manajemen pemeliharaan, tingkat stres, serta keberadaan infeksi penyakit lain yang menyertai. Infeksi MG menyebabkan kerusakan pada saluran pernapasan sehingga mengganggu fungsi normal sistem respirasi dan berdampak pada penurunan performa ayam.
Secara klinis, ayam yang terinfeksi MG umumnya menunjukkan gejala berupa batuk, bersin, suara ngorok, keluarnya lendir dari hidung, mata berair, penurunan konsumsi pakan, kesulitan bernapas (dyspnea), serta gangguan pertumbuhan. Pada beberapa kasus, ayam juga terlihat lesu dan mengalami penurunan aktivitas akibat berkurangnya asupan pakan dan gangguan pernapasan yang berkepanjangan. Dampak infeksi MG dapat berbeda pada setiap tipe produksi unggas. Pada ayam petelur, infeksi dapat menyebabkan penurunan produksi telur serta penurunan kualitas produksi secara keseluruhan. Sementara itu, pada ayam pedaging (broiler), infeksi MG dapat menyebabkan pertumbuhan yang tidak optimal dan meningkatkan nilai feed conversion ratio (FCR).



Pada pemeriksaan nekropsi, lesi yang sering ditemukan meliputi air sacculitis atau peradangan kantung udara, penebalan membran kantung udara, akumulasi eksudat kaseosa (caseous exudate), trakeitis. Tingkat keparahan lesi dapat meningkat apabila terjadi infeksi sekunder oleh bakteri lain, terutama Escherichia coli. Kombinasi infeksi antara MG dan E. coli ini sering dikenal sebagai Complex Chronic Respiratory Disease (CCRD) atau CRD kompleks. Pada kondisi CCRD, gejala klinis umumnya menjadi lebih berat, kondisi patologi berupa perikarditis dan perihepatitis, angka kematian dapat meningkat, dan kerugian ekonomi yang ditimbulkan juga menjadi lebih besar dibandingkan infeksi MG tunggal.
Mycoplasma Synoviae
Mycoplasma synoviae (MS) merupakan salah satu spesies Mycoplasma penting pada unggas yang sering menyebabkan infeksi subklinis, sehingga keberadaannya sering tidak disadari oleh peternak. Meskipun gejala yang ditimbulkan umumnya lebih ringan dibandingkan infeksi Mycoplasma gallisepticum, infeksi MS tetap dapat menimbulkan kerugian ekonomi yang cukup besar akibat penurunan performa produksi, gangguan pertumbuhan, serta penurunan kualitas hasil produksi. Organ yang sering menjadi target infeksi MS meliputi persendian, tendon atau selubung tendon (tendon sheath), sistem respirasi, serta saluran reproduksi.
Secara klinis, ayam yang terinfeksi MS dapat menunjukkan gejala berupa pincang, pembengkakan pada persendian, kesulitan berjalan, penurunan aktivitas, pertumbuhan yang terhambat, serta gangguan respirasi ringan. Peradangan pada persendian dan tendon menyebabkan ayam mengalami rasa tidak nyaman saat bergerak sehingga aktivitas makan dan minum dapat menurun. Pada kondisi yang lebih berat, ayam dapat mengalami gangguan pergerakan yang cukup signifikan sehingga menyebabkan penurunan performa pertumbuhan dan peningkatan angka afkir.



Pada ayam petelur, infeksi MS juga sering dikaitkan dengan terjadinya Eggshell Apex Abnormality (EAA), yaitu kelainan pada kualitas kerabang telur yang terutama ditemukan pada bagian ujung telur (apex). Kelainan tersebut dapat ditandai dengan kerabang yang tampak lebih tipis dan kasar, atau perubahan warna pada permukaan telur. Adanya gangguan kualitas kerabang ini dapat menurunkan nilai ekonomi telur karena meningkatkan risiko kerusakan selama penanganan maupun distribusi. Gejala klinis yang ditimbulkan MS sering bersifat ringan atau bahkan tidak terlihat secara jelas, sehingga infeksi MS dapat berlangsung dalam waktu yang lama dan menyebar secara perlahan di dalam flok tanpa terdeteksi. Kondisi tersebut menyebabkan ayam yang tampak sehat berpotensi menjadi sumber penularan bagi ayam lainnya, sehingga deteksi dini dan program monitoring rutin menjadi faktor penting dalam pengendalian penyakit di peternakan.
Berikut perbedaan antara M. Gallisepticum dan M. Synoviae

Penanganan dan Pengendalian
Apabila ditemukan dugaan kasus infeksi Mycoplasma gallisepticum (MG) maupun Mycoplasma synoviae (MS), peternak perlu segera melakukan tindakan pengendalian untuk meminimalkan penyebaran penyakit dan menurunkan dampak kerugian produksi.
Isolasi
Langkah pertama yang dapat dilakukan adalah memisahkan ayam yang menunjukkan gejala klinis berat. Pemisahan bertujuan mengurangi kontak langsung dengan ayam sehat sehingga risiko penularan dapat ditekan. Selain itu, isolasi ayam sakit memudahkan proses observasi dan pemberian terapi yang lebih terarah.
Pengobatan
Pengobatan menggunakan antibiotik bertujuan menurunkan jumlah bakteri, mengurangi gejala klinis, serta mencegah infeksi sekunder. Mycoplasma tidak dapat dibunuh menggunakan antibiotik yang bekerja dengan merusak pembentukan dinding sel, maka dari itu, penggunaan antibiotik Therapy dapat menjadi solusi. Therapy yang bekerja dengan cara mengahambat proses sintesis protein pada bakteri. Alternatif antibiotik lain yang bisa digunakan yakni Neo Meditril yang bekerja dengan cara menghambat sintesis asam nukleat bakteri.
Pengendalian stres juga penting diperhatikan. Stres akibat kepadatan kandang tinggi, perubahan suhu mendadak, kualitas pakan yang kurang baik, perpindahan kandang, maupun manajemen pemeliharaan yang tidak optimal dapat menurunkan sistem imun ayam dan meningkatkan keparahan infeksi. Produk vitamin dan peningkat daya tahan tubuh seperti Fortevit membantu menjaga kondisi fisiologis ayam. Fortevit mengandung multivitamin konsentrasi tinggi yang dapat meningkatkan produksi, mengurangi stres, dan mengurangi angkat kematian ayam.
Manajemen
Perbaikan manajemen kandang dan ventilasi juga memegang peranan penting dalam pengendalian penyakit. Ventilasi yang buruk dapat meningkatkan konsentrasi debu, kadar amonia, dan kelembapan kandang yang dapat memperparah gangguan sistem respirasi. Kadar amonia yang tinggi dapat merusak mukosa saluran pernapasan sehingga mempermudah kolonisasi Mycoplasma. Ammotrol, dapat dijadikan solusi yang akan mengurangi bau di area peternakan yang disebabkan karena amonia. Ventilasi yang baik harus mampu menyediakan pertukaran udara secara optimal dan tersebar merata di seluruh kandang tanpa menimbulkan area pengap ataupun aliran angin yang terlalu kuat. Kepadatan ayam yang terlalu tinggi dapat mengakibatkan akumulasi feses, meningkatkan suhu kandang dan kelembapan liter, maka dari itu populasi ayam harus disesuaikan dengan kapasitas kandang. Kelembapan kandang dapat dioptimalkan dengan memperhatikan pengaturan ventilasi, perawatan liter dan pengelolaan sistem air minum.
Pencegahan
Pencegahan merupakan metode paling efektif dalam pengendalian mikoplasmosis karena infeksi ini sering berlangsung kronis dan sulit dieliminasi sepenuhnya setelah masuk ke populasi peternakan. Program pencegahan yang baik dimulai dengan memilih DOC yang baik dan sehat sebagai syarat awal brooding. Brooding yang baik yakni dengan cara mengatur suhu yang sesuai berkisar 32-34°C, dengan kelembapan 60-70%, pakan dan minum harus selalu tersedia serta pengaturan kepadatan DOC.
Penerapan biosekuriti yang ketat juga menjadi komponen utama pencegahan. Biosekuriti dapat dilakukan melalui desinfeksi kandang secara rutin menggunakan Antisep, sanitasi air minum menggunakan Desinsep, adanya pembatasan lalu lintas pekerja dan kendaraan serta pengendalian vektor penyakit. Kontrol terhadap kualitas udara kandang, debu, dan kadar amonia juga perlu dilakukan untuk menjaga kesehatan saluran pernapasan ayam. Kadar amonia dapat diminimalisir dengan cara manajemen litter yang baik, yakni mengatur ketebalan litter ( 5- 10 cm) dan penambahan kembali litter yang sudah lembab atau basah secara berkala.
Abdelrahman A. A., Shany, S. A. S., Dardeer, M. A. A., Hassan, K. E., Ali, A. and El-Kady, M. F. 2021. Avian Mycoplasma gallisepticum and Mycoplasma synoviae: Advances in diagnosis and control. Ger.J. Vet. Res. (2): 46-55. https://doi.org/10.51585/gjvr.2021.2. 0019
B. Ben Abdelmoumen Mardassi,* R. Ben Mohamed, I. Gueriri, S. Boughattas. 2005. Duplex PCR To Differentiate between Mycoplasma synoviae and Mycoplasma gallisepticum on the Basis of Conserved Species-Specific Sequences of Their Hemagglutinin Genes. JOURNAL OF CLINICAL MICROBIOLOGY, Feb. 2005, p. 948–958 Vol. 43, No. 2.
Fatemeh Bibak, Gholam Ali Kalidari, Jamshid Razmyar, Mehrnaz Rad. 2013. Isolation of Mycoplasma spp. from broiler flocks with respiratory syndrome in Mashhad, Iran. Iranian Journal of Veterinary Science and Technology Vol. 5, No. 1, 2013, 11-18
Jeon EO, Kim JN, Lee HR, Koo BS, Min KC, Han MS, Lee SB, Bae YJ, Mo JS, Cho SH, Lee CH, Mo IP. Eggshell apex abnormalities associated with Mycoplasma synoviae infection in layers. J Vet Sci. 2014 Dec;15(4):579-82. doi: 10.4142/jvs.2014.15.4.579. Epub 2014 Jun 20. PMID: 24962418; PMCID: PMC4269603.
K. Manimaran, Adarsh Mishra, S. Hemalatha, K. Karthik and P.I. Ganesan. 2019. Detection of Mycoplasma galliseptium infection in chickens from Tamil Nadu State of India. Central University Laboratory, Centre for Animal Health Studies, Tamil Nadu Veterinary and Animal Sciences University, Madhavaram Milk Colony, Chennai-600 051, Tamil Nadu, India. DOI: 10.18805/ijar.B-3443
Mugunthan, S.P.; Kannan, G.; Chandra, H.M.; Paital, B. Infection, Transmission, Pathogenesis and Vaccine Development against Mycoplasma gallisepticum. Vaccines 2023, 11, 469. https://doi.org/10.3390/vaccines11020469
Shi-Kai Sun, Xin Lin, Feng Chen, Ding-Ai Wang, Jun-Peng Lu, Jian-Ping Qin and Ting-Rong Luo.2017. Epidemiological investigation of Mycoplasma Synoviae in native chicken breeds in China. Sun et al. BMC Veterinary Research (2017) 13:115 DOI 10.1186/s12917-017-1029-0.
World Organisation for Animal Health. (2021). Terrestrial Manual Chapter 3.3.5: Avian mycoplasmosis (Mycoplasma gallisepticum, Mycoplasma synoviae). Paris: WOAH.
