Tangani Masalah Pencernaan yang Mengganggu Produktivitas Layer

artikel utama
Daftar isi

Pencernaan adalah Mesin Utama yang Mendukung Produktivitas Ayam Layer

Saluran pencernaan merupakan organ paling vital dalam industri peternakan ayam petelur (layer). Fungsi utama organ ini adalah memecah pakan, menyerap nutrisi, dan membuang sisa metabolisme. Namun, lebih dari sekadar organ pencernaan, di dalam usus ayam juga terdapat organ kekebalan (Gut-Associated Lymphoid Tissue/GALT) yang menjadi garis pertahanan pertama terhadap berbagai patogen yang masuk ke dalam tubuh ayam melalui sistem pencernaan.

artikel utama juli 1
Gambar 1. Sistem pencernaan ayam [8]
(sumber : Khamas, 2024)

Setelah pakan ditelan maka akan secara berurutan akan masuk ke dalam organ-organ yang di tunjukkan pada gambar 1. Pakan terlebih dahulu akan masuk ke crop atau tembolok, kemudian di teruskan ke (a) proventriculus, (c) gizzard, (d, e) duodenum yang melingkari pancreas, nutrisi dari pakan akan diserap oleh (h) jejunum dan (i) ileum, kemudian akan masuk ke (k) usus buntu atau sekum, (m) rectum, dan sisa kotoran akan dikeluarkan melalui (n) kloaka[8].

Dalam industri ayam petelur, Feed Conversion Ratio (FCR) dan persentase Hen-Day (%HD) adalah indikator utama profitabilitas. Dimana pakan menyumbang sekitar 60-70% dari total biaya produksi. Jika saluran pencernaan terganggu, efisiensi penyerapan nutrisi akan menurun drastis. Akibatnya, pakan yang “mahal”, nilai gizinya hanya akan terbuang percuma bersama feses. Dampak lanjutannya adalah produksi telur merosot, kualitas kerabang telur menurun, dan kerentanan ayam terhadap penyakit akan meningkat.

Menjaga kesehatan saluran pencernaan (gut health) bukan lagi sekadar pilihan, melainkan keharusan mutlak untuk memastikan produktivitas ayam layer yang kita pelihara tetap optimal. Produktivitas ayam petelur harus selalu kita jaga meskipun selalu mendapatkan ancaman serius mulai dari naiknya cost produksi yang berbanding terbalik dengan harga pasar telur di berbagai wilayah tanah air akhir-akhir ini.

Era Pasca-pelarangan AGP dan Update Regulasi

Kondisi peternakan layer di lapangan saat ini menghadapi dinamika yang kompleks. Sejak pelarangan penggunaan Antibiotic Growth Promoter (AGP) di Indonesia (merujuk pada Permentan No. 14/2017), pola penyakit pencernaan mengalami pergeseran yang signifikan. Peternak melaporkan terjadinya lonjakan kasus kotoran basah (wet dropping), koksidiosis subklinis maupun klinis, dan Necrotic Enteritis (NE) yang diakibatkan karena bakteri Clostridium perfringens. Peningkatan kasus penyakit pencernaan ini muncul karena hilangnya perlindungan profilaksis atau tindakan pencegahan dengan penggunaan antibiotik di saluran pencernaan dari pemberian AGP.

artikel utama juli 2

Pelarangan AGP ini bukan tanpa tujuan, hal ini merupakan bukti keseriusan pemerintah dalam menanggulangi dan mencegah munculnya resistensi terhadap antibiotik (antimicrobial resistant) yang dampaknya akan sangat memengaruhi kesehatan ternak, lingkungan, dan manusia.

Pada awal tahun 2026 ini, pemerintah Indonesia melalui kementerian peternakan juga mulai melakukan pelarangan/pembatasan terhadap beberapa zat aktif antibiotik. Regulasi terbaru di tahun 2026 mengenai hal tersebut tertuang dalam Keputusan Menteri Pertanian (Kepmentan) Republik Indonesia Nomor 63/KPTS/PK.300/F/01/2026 tentang Pelarangan Penggunaan Obat Hewan pada Ternak yang Produknya untuk Konsumsi Manusia. Aturan ini resmi ditetapkan pada tanggal 5 Januari 2026. Fokus utama dari edaran ini adalah pelarangan dan pembatasan ketat terhadap beberapa zat aktif antibiotik yang termasuk dalam golongan Fluoroquinolon : Ciprofloxacin, Norfloxacin, Levofloxacin, Ofloxacin dan Oxolinic acid, serta Cephalosporin generasi 3 serta 4 (kecuali Ceftiofur).

Pelarangan atau pembatasan penggunaan antibiotik ini juga harus kita cermati dengan bijak. Saat ini pengembangan atau penelitian terkait obat-obatan alami alternatif (herbal) untuk hewan mulai dilirik. Obat hewan herbal ini dikembangkan sehingga dapat digunakan sebagai substitusi penggunaan obat-obat terutama antibiotik yang penggunaannya pada hewan ternak mulai dibatasi atau bahkan dilarang. Terlebih lagi, masyarakat Indonesia memang telah mengenal potensi dan memanfaatkan berbagai macam tumbuhan yang dinilai memiliki khasiat sebagai obat herbal sejak zaman nenek moyang, namun hanya sebatas pengetahuan turun temurun sebagai bentuk interaksi antara masyarakat dengan lingkungannya.

Faktor Non Infeksius

Meskipun agen penyakit infeksius (bakteri, virus, dan parasit) kerap dituduh sebagai penyebab utama permasalahan pencernaan dan produktivitas pada ayam layer, data lapangan menunjukkan bahwa fluktuasi performa justru sering kali diinisiasi oleh gangguan non-infeksius. Lingkungan iklim mikro di kandang yang ekstrem, tata kelola udara yang kurang baik, serta kontaminasi racun jamur (mikotoksin) tertentu pada pakan bekerja secara sinergis merusak struktur fungsional saluran pencernaan.

– Dinamika Iklim di Indonesia

Faktor non-infeksius yang banyak mengakibatkan gangguan pencernaan diantaranya adalah ketidaksesuaian manajemen kandang. Manajemen pemeliharaan ini menjadi kunci kenyamanan ayam yang kita pelihara. Ayam yang tidak sejahtera, lebih rentan terjangkit penyakit ataupun produktivitasnya akan menurun.

Dari sisi manajemen di kandang, misalkan ayam yang mendapatkan cekaman panas berlebih yang ada di kandang. Cekaman panas berlebihan dapat memicu munculnya heat stress. Heat stress telah dilaporkan oleh berbagai penelitian memiliki dampak yang signifikan terhadap kesehatan saluran pencernaan, terutama akibat adanya peningkatan stres oksidatif yang ditimbulkan [1].

Berdasarkan Prediksi Musim Kemarau 2026 di Indonesia yang disampaikan oleh Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika, Maret lalu, beberapa wilayah di Indonesia diprediksi akan memasuki musim kemarau sejak April, Mei dan Juni, kemudian sebagian besar wilayah akan mengalami puncak kemarau pada bulan Agustus 2026 (Gambar 1). Kemarau tahun ini juga diprediksi menjadi kemarau yang lebih panjang dibandingkan normalnya [7].

artikel utama juli 3
Gambar 3. Prediksi Puncak Musim Kemarau (sumber : website BMKG, 2026)

Hal yang harus kita waspadai sebagai peternak adalah potensi cekaman panas yang dirasakan oleh ayam dapat menimbulkan kondisi yang sering dikenal dengan istilah heat stress. Kondisi heat stress terjadi ketika ayam mendapat paparan suhu di atas dari zona nyamannnya (comfort zone) pada suhu 25-28° C dengan kelembapan (RH) 60-70%. Reaksi tubuh ayam saat suhu tinggi dan selengkapnya terkait heat stress dapat di baca kembali pada artikel Info Medion Edisi Mei 2026. Ayam yang tidak memiliki kelenjar keringat sehingga dalam upaya pengeluaran panas salah satunya adalah dengan melakukan panting (percepatan frekuensi napas).

Proses panting berkepanjangan karena cekaman panas berlebih menyebabkan pengeluaran gas karbon dioksida (CO2) secara berlebihan, menggeser keseimbangan pH darah menjadi lebih basa, sebuah kondisi patologis yang disbutkan alkalosis respiratorik. Telah banyak peneliti yang membuktikan bahwa kondisi tersebut dapat mengakibatkan gangguan fisiologis pada saluran pencernaan. Turunnya fungsi saluran pencernaan tentu dapat berdampak pada produktivitas ayam petelur.

Kondisi heat stress pada ayam juga dapat ditandai dengan perubahan morfologi jaringan usus yakni meningkatnya permeabilitas usus[2]. Seperti hewan berlambung tunggal lainnya, pada ayam juga memiliki penghalang (barier) usus yang terdiri dari tight junction yang memastikan hubungan yang kuat antara membran enterosit (sel-sel usus) dan lapisan mukosa pelindungnya. Saat mendapat cekaman panas feed intake ayam akan menurun, bersamaan dengan hipoksia (kondisi tubuh kekurangan oksigen) dan iskemia (kondisi suplai darah ke organ terhambat), hal ini menyebabkan kerusakan lapisan mukosa pelindung dan melemahnya tight junctions[3]. Stres oksidatif memperparah kondisi ini karena dapat mengakibatkan kematian jaringan (apoptosis) pada sel-sel mukosa usus[1].

Pada beberapa penelitian juga membuktikan adanya perubahan mikrobiota yang hidup di saluran pencernaan akibat cekaman panas pada ayam. Kondisi heat stress mungkin menjadi salah satu penyebab utama yang berkaitan dengan penurunan populasi bakteri komensal, seperti Lactobacillus dan Bifidobacterium[4]. Bakteri seperti Escherichia coli menjadi salah satu yang banyak dilaporkan berkaitan dengan kondisi cekaman panas. Pada ayam bakteri E. coli merupakan bakteri patogen yang dapat mengakibatkan penyakit colibacillosis[5].

Kesimpulannya, epitel usus, yang berfungsi sebagai garis pertahanan pertama terhadap mikroba patogen, mungkin tidak lagi mampu sepenuhnya menjalankan perannya ketika mendapatkan cekaman stres panas, yang mengakibatkan kerusakan parah pada enterosit dan sambungan ketat. Selain itu, pertumbuhan bakteri menguntungkan dapat terganggu karena ketersediaan nutrisi yang terbatas, yang dapat memperburuk invasi agen patogen dan menyebabkan infeksi sistemik, yang sering diamati pada kawanan ayam yang dipelihara di bawah cekaman suhu lingkungan yang tinggi[6].

– Kualitas Ransum dan Cemaran Pada Pakan

Dari faktor nutrisi salah satu yang perlu diperhatikan adalah keseimbangan nutrisi yang terdapat pada ransum sesuai kebutuhan ayam dan menjaga supaya feed intake tetap tercapai sesuai standar. Ketidakseimbangan nutrisi dan ketidaksesuaian kualitas ransum bisa memengaruhi proses pencernaan di saluran pencernaan sehingga bisa merusak organ-organ tertentu.

Serat kasar tanda dari kualitas dedak yg kurang baik, misalkan tingginya cemaran sekam di dalamnya. Sekam mengandung tinggi antinutrisi berupa asam fitat, asam fitat ini tidak bisa dipecah oleh enzim-enzim pencernaan endogen ayng ada di dalam saluran pencernaan dan mampu mengikat fosfor dan protein sehingga tidak bisa dimanfaatkan oleh ayam. Hal ini tentu akan berakibat pada penurunan produktivitas ayam petelur.

Zat antinutrisi lain yang harus diperhatikan adalah NSP (Non Starch Polysaccharide), NSP banyak terkandung pada bahan baku asal tumbuhan seperti jagung dan kedelai, jika tidak dipecah oleh enzym yang tepat dapat mengakibatkan viskositas usus menjadi lebih kental, sehingga nutrisi sulit diserap dan dapat mengakibatkan munculnya wet drop atau fesesnya cenderung lebih basah.

Defisiensi vitamin A juga bisa mengganggu sistem pencernaan, akibatnya dapat terjadi penurunan daya kerja esofagus, tembolok dan ginjal. Selain itu, kontaminasi bakteri seperti bakteri Escherichia coli yang ada pada ransum atau air minum dapat ikut tertelan dan menyebabkan ayam terserang penyakit pencernaan akibat bakteri tersebut.

Hal yang kadang tidak terpantau adalah adanya jamur pada ransum. Jamur di ransum dapat menurunkan nutrisi sehingga penyerapan nutrisi oleh ayam tidak optimal. Jamur juga dapat menghasilkan racun jamur atau yang sering disebut mycotoxin. Mycotoxin yang dihasilkan dari jamur juga dapat mencemari pakan, dan dapat mengiritasi saluran pencernaan seperti mengiritasi gizzard/ampela pada ayam sehingga mengakibatkan gizzard erosion. Penyakit akibat racun jamur ini dikenal nama penyakitnya adalah mycotoxicosis.

artikel utama juli 4
Gambar 4. Gizzard erosion (panah merah) yang terjadi pada ayam diduga diakibatkan karena cemaran racun jamur pada pakan. (Sumber : Dokumentasi Medion)

Faktor Infeksius

Gangguan pencernaan pada ayam layer jarang merupakan permasalahan yang berdiri sendiri. Masalah pada sistem pencernaan sering kali merupakan hasil interaksi antara agen infeksius dan faktor non-infeksius. Diantara agen infeksius yang sering menjadi penyebab munculnya gangguan pencernaan adalah bakteri, virus, dan parasit/protozoa. Dimana agen-agen penyakit tersebut dapat merusak organ-organ tertentu yang berada di sepanjang sistem pencernaan.

Tren penyakit infeksius yang mengganggu sistem pencernaan saat ini di dominasi penyakit bakterial seperti Colibacillosis, Necrotic Enteritis dan Fowl Cholera. Sedangkan untuk penyakit infeksius yang diakibatkan karena virus didominasi oleh Newcastle Disease dan Avian Influenza. Penyakit-penyakit tersebut tidak hanya merusak organ pencernaan, tetapi juga dapat secara langsung mengakibatkan kerusakan pada sistem reproduksi. Sehingga sangat berdampak pada turunnya performa produksi ayam petelur.

Sejalan dengan informasi tersebut, berikut data insidensi penyakit yang dikumpulkan oleh tim Technical Education and Consultation Medion untuk 3 semester terakhir. Data ini dapat kita jadikan pedoman dan gambaran pengendalian penyakit di paruh kedua tahun 2026 (Juli – Desember).

artikel utama juli 5

1. Colibacillosis

Colibacillosis diakibatkan karena infeksi bakteri Escherichia coli. Bakteri E. coli juga merupakan bakteri yang hidup alamiah di dalam saluran pencernaan unggas. Karena sifatnya yang patogen oportunistik, bakteri E. coli dapat menimbulkan penyakit colibacillosis ketika terjadi peningkatan populasinya dalam saluran cerna.

Bakteri ini kemudian mencemari lingkungan, pakan, air, sapronak, dan lain-lain. Sehingga dapat masuk kembali ke dalam tubuh ayam melalui berbagai rute seperti via inhalasi (pernapasan), via oral (masuk lewat mulut/makan/minum), dan via mukosa konjungtiva mata. Infeksi bakteri ini dapat bersifat lokal seperti peradangan pada selaput konjungtiva mata (konjungtivitis), peradangan pada usus (enteritis), dan peradangan pada lapisan subkutan (selulitis), serta oviduk mengakibatkan salpingitis.

artikel utama juli 6
Gambar 6. Gangguan pencernaan akibat bakteri E. coli berupa enteritis (radang pada usus) yang dapat mengakibatkan diare pada ayam. (Sumber : Dokumentasi PT. Medion)

Salpingitis terjadi akibat berpindahnya sejumah besar bakteri E. coli dari kloaka ke oviduk atau berpindahnya E. coli melalui infeksi kantung udara (airsakulitis). Infeksi ringan pada oviduk menyebabkan turunnya produksi telur pada ayam. Akan tetapi, jika proses radang pada oviduk tersebut berjalan secara terus-menerus dalam jangka waktu lama (kronis), maka dinding lapisan oviduk juga akan menipis dan di dalamnya terbentuk sumbatan. Sumbatan tersebut bisa berupa cairan kental seperti nanah atau padatan keras seperti keju berbau busuk. Kadang-kadang, kejadian salpingitis tersebut disertai pula dengan radang pada selaput perut (peritonitis).

Selain infeksi yang sifatnya lokal bakteri ini mampu menembus pembuluh darah dan mengakibatkan bakterimia (bakteri beredar bersama aliran darah ke seluruh tubuh) dan timbul infeksi yang sifatnya sistemik. Jika sudah terjadi infeksi sistemik, berbagai organ visceral ayam dapat menjadi target serangan seperti kantung udara menimbulkan airsakulitis, jantung menimbulkan perikarditis, hati menimbulkan perihepatitis, ovarium menimbulkan oophoritis, dan berbagai organ lainnya. Ciri peradangan yang diakibatkan karena adanya infeksi bakteri E. coli adalah adanya timbunan massa mengkeju pada jaringan-jaringan yang mengalami peradangan, seperti contoh gambar berikut:

artikel utama juli 7

2. Necrotic Enteritis

Necrotic enteritis adalah penyakit bakterial yang bersifat sporadik pada ayam yang disebabkan infeksi Clostridium perfringens tipe A maupun C. Clostridium perfringens adalah bakteri alami dan komensal yang ditemukan di saluran pencernaan ayam yang sehat. Namun, bakteri ini juga berpotensi menjadi patogen. Bakteri ini bertransisi dari komensal yang tidak berbahaya menjadi agen penyebab penyakit ketika terdapat stresor lingkungan atau kerusakan mukosa menyebabkan meningkatnya populasi bakteri ini secara berlebih di usus [9].

Beberapa faktor pemicu terjadinya peningkatan populasi bakteri C. Perfringens di usus yang mengakibatkan NE adalah lingkungan yang tidak higienis seperti litter lembap/basah, stres, perubahan cuaca, serta adanya penyakit yang menimbulkan kerusakan usus seperti koksidiosis. Perubahan viskositas isi usus karena kualitas nutrisi atau bahan baku juga dapat memicu terjadinya NE. Perubahan viskositas tersebut disebabkan oleh pemberian ransum dengan kandungan protein dan energi yang terlalu tinggi seperti dijelaskan pada bahasan non infeksius sebelumnya atau juga dapat diakibatkan oleh perubahan pakan yang mendadak.

Penyakit NE dapat mengakibatkan rusaknya mukosa usus. Karena terjadi kerusakan pada saluran mukosa, sehingga sering ditemukan sisa pakan tidak tercerna seperti sisa-sisa jagung pada feses. Perubahan anatomi pada kasus NE diantaranya usus terlihat menggelembung berisi gas, berbau khas, dan dinding usus mudah sobek atau menjadi rapuh. Ketika kasus sudah parah, mukosa usus terlihat kasar seperti permukaan handuk atau sering disebut “turkish towel”.

artikel utama juli 8 1
Gambar 8. Penebalan mukosa mengakibatkan penampakan “turkish towel” pada usus akibat terinfeksi Necrotic enteritis (Sumber : Dokumentasi PT. Medion)
artikel utama juli 9
Gambar 9. Gambaran patologi anatomi akibat penyakit Necrotic Enteritis, A. Distensi gas pada jejunum, B. Kematian jaringan pada mukosa jejunum (berwarna titik-titik kehitaman), C. Penebalan dinding mukosa menunjukkan gambaran “turkish towel”, D. Enteritis (radang pada usus) tampak pada kemerahan pada mukosa usus [10] (Sumber : Kouchey, et al. 2025)

3. Fowl Cholera

Fowl Cholera atau kolera unggas diakibatkan oleh bakteri Pasteurella multocida. Bakteri ini dapat menyerang dan mengakibatkan infeksi bentuk perakut, akut, maupun kronis. Ayam bisa tertular bakteri P. multocida melalui inhalasi, peroral dan luka pada permukaan jaringan (kulit). Meskipun demikian penularan yang paling penting adalah secara peroral (saluran pencernaan) melalui leleran lendir dari hidung atau mulut.

Penularan di flok kandang sangat sulit diketahui karena ayam yang terkena penyakit fowl cholera yang sifatnya kronis dapat menjadi carrier terutama pada ayam-ayam yang baru sembuh dari penyakit ini. Bakteri dapat bertahan di rongga hidung atau saluran pernapasan atas yang kemudian dapat menularkan secara langsung maupun tidak langsung melalui pencemaran pada air minum, tempat minum, lingkungan, peralatan peternakan, kendaraan maupun pekerja.

Penyakit fowl cholera dapat dipicu oleh berbagai faktor stres, seperti perubahan musim, pergantian cuaca yang mendadak, fluktuasi suhu dan kelembapan, setelah ayam pindah kandang, potong paruh, ataupun stres karena perlakuan (vaksinasi/timbang bobot badan)[11], dan lainnya. Penyakit ini juga banyak dijumpai pada saat terjadi kemarau panjang[11] seperti saat ini diramalkan oleh BMKG, sehingga kita harus mewaspadai peningkatan kasusnya.

Sebagai strategi pengendalian di daerah yang rawan fowl cholera dapat dilakukan dengan strategi pencegahan dengan melakukan vaksinasi menggunakan Medivac Fowl Cholera. Vaksinasi ini bertujuan untuk merangsang tubuh membentuk antibodi, sehingga ketika tantang lapang tinggi terhadap bakteri P. multocida, unggas yang telah memiliki antibodi dapat bertahan dan meminimalisir kerugian akibat sakit fowl cholera. Perubahan patologi akibat penyakit fowl cholera kadangkala tidak dijumpai spesifik terutama pada kasus perakut, atau terbatas dengan ditemukannya perdarahan (hemoraghi) pada beberapa organ seperti lemak jantung, lemak perut, hati, dan membran mukosa saluran pencernaan (usus, proventrikulus, dan gizzard).

artikel utama juli 10
Gambar 10. Multifokal nekrosis pada hati (panah hitam) dan warna hati pucat akibat infeksi folw cholera. (Sumber : Dokumentasi PT. Medion)

Pada saluran pencernaan dapat dijumpai enteritis (radang pada usus) yang mengakibatkan diare, penurunan berat badan, dan feses berwarna kehijauan. Sehingga peternak juga mengenal penyakit ini dengan istilah berak hijau. Perubahan spesifik lain yang dapat ditemukan adalah multifokal nekrosis pada hati seperti ditunjukkan pada gambar 10. Penyakit ini juga dapat mengakibatkan kerusakan pada sistem reproduksi berupa pecahnya ovarium di rongga perut atau dikenal dengan yolk peritonitis [12].

Strategi Pengendalian Penyakit Pencernaan

Temuan di lapangan menunjukkan bahwa penurunan produktivitas dapat diakibatkan karena adanya permasalahan di saluran pencernaan baik akibat noninfeksius maupun infeksius seperti penyakit colibacillosis, necrotic enteritis, dan fowl cholera. Sehingga diperlukan upaya yang menyeluruh untuk menjaga kesehatan saluran pencernaan ini. Berikut beberapa faktor penting yang dapat dikendalikan untuk menghindari kondisi permasalahan pencernaan pada unggas terutama di musim kemarau yang akan datang.

  1. Penerapan manajemen guna menciptakan kondisi kandang yang nyaman dan ideal baik dari kualitas udara, suhu, dan kelembapan udara.
  2. Minimalkan faktor-faktor imunosupresif (menekan sistem kebal), lakukan vaksinasi dan pengulangan vaksinasi sesuai dengan program atau kerawanan penyakit di lingkungan.
  3. Penerapan biosekuriti ketat, dengan menjalankan prinsip isolasi, pemisahan, pengaturan lalu-lintas, dan melakukan sanitasi dan desinfeksi rutin. Selengkapnya terkait biosekuriti dapat di baca kembali pada Info Medion edisi September 2023.
  4. Menjaga kuantitas air minum tetap cukup dengan kualitas yang baik, seperti tidak ada cemaran bakteri coliform atau E. coli. Rutin flushing atau membersihkan tempat minum ayam supaya tidak menjadi tempat bersembunyinya bibit-bibit penyakit seperti munculnya biofilm.
  5. Pemberian pakan dengan kandungan nutrisi yang tepat dan menjaga kualitas pakan supaya tidak ditumbuhi jamur.
  6. Menjaga kondisi tubuh ternak supaya tetap fit dengan pemberian multivitamin.
  7. Perhatikan, pisahkan atau segera tangani ayam-ayam yang menunjukkan gejala penyakit, agar tidak menjadi sumber merebaknya penyakit. Terutama kita harus jeli melihat perubahan warna dan/atau konsistensi feses ayam, hal ini bisa menjadi sistem peringatan dini penyakit pencernaan pada ayam.

Pengobatan pada Penyakit Pencernaan

Apabila ayam kita terlanjur sakit akibat agen infeksius seperti colibacillosis, necrotic enteritis, atau fowl cholera kita dapat melakukan pengobatan sesuai dengan anjuran tenaga kesehatan atau dokter hewan yang menangani kasus tersebut di kandang. Misalkan kita dapat menggunakan obat antibiotik dari golongan penisilin seperti Amoxitin atau Ampicol, golongan tetrasiklin seperti Koleridin atau injeksi dengan Medoxy-I atau Medoxy-LA.

Pilihan antibiotik tentu juga dapat didasarkan pada hasil uji sensitivitas bakteri terhadap zat aktif tertentu[13]. Kita juga bisa melakukan prinsip rolling antibiotik dengan mengganti zat aktif antibiotik dari golongan antibiotik berbeda setelah 3-4 kali pengobatan dengan menggunakan antibiotik yang sama untuk mencegah munculnya kemampuan resistensi bakteri terhadap suatu zat aktif antibiotik tersebut.

Penggunaan obat herbal sebagai alternatif solusi pengobatan juga dapat dijadikan pilihan saat terjadi kasus penyakit pencernaan. Medion terus berinovasi untuk menciptakan produk herbal yang memiliki fungsi serupa dengan penggunaan antibiotik. Salah satu produk antibiotik herbal dari Medion adalah Intesfit, yang merupakan antibakteri herbal untuk pencernaan yang dapat mempercepat penyembuhan fowl cholera dan necrotic enteritis.

intesfit
Gambar 11. Intesfit, antibakteri alami untuk pencernaan

Kandungan bahan aktif andrografolid dari ekstraks tanaman herbal Andrographis paniculata dalam produk Intesfit akan bekerja dengan menghambat pembentukan DNA bakteri serta mencegah pembentukan koloni bakteri patogen. Selain itu, bahan aktif lainnya yang terkandung dalam ekstrak Kaempferia galanga akan menempel pada membran sel bakteri, kemudian merusak membran sel, sehingga bakteri akan mati karena kerusakan tersebut. Intesfit berupa sediaan cair, sehingga sangat mudah larut dan ramah digunakan pada dosing pump serta nipple drinker. Dosis yang disarankan adalah 1 mL/L air minum, diberikan selama 5-7 hari.

Referensi :

[1] Liu G, Zhu H, Ma T, Yan Z, Zhang Y, Geng Y, et al. Effect of chronic cyclic heat stress on the intestinal morphology, oxidative status and cecal bacterial communities in broilers. J Therm Biol. 2020;91:102619. 10.1016/j.jtherbio.2020.102619.

[2] Rocchi A, Ruff J, Maynard CJ, Forga AJ, Señas-Cuesta R, Greene ES, et al. Experimental cyclic heat stress on intestinal permeability, bone mineralization, leukocyte proportions and meat quality in broiler chickens. Animals (Basel). 2022;12:1273. 10.3390/ani12101273.

[3] Gilani S, Chrystal PV, Barekatain R. Current experimental models, assessment and dietary modulations of intestinal permeability in broiler chickens. Anim Nutr. 2021;7:801–11. 10.1016/j.aninu.2021.03.001.

[4] Song J, Xiao K, Ke YL, Jiao LF, Hu CH, Diao QY, et al. Effect of a probiotic mixture on intestinal microflora, morphology, and barrier integrity of broilers subjected to heat stress. Poult Sci. 2014;93:581–8. 10.3382/ps.2013-03455.

[5] Simoneit C, Burow E, Tenhagen BA, Käsbohrer A. Oral administration of antimicrobials increase antimicrobial resistance in E. coli from chicken – a systematic review. Prev Vet Med. 2015;118:1–7. 10.1016/j.prevetmed.2014.11.010.

[6] Ncho CM. Heat stress and the chicken gastrointestinal microbiota: a systematic review. J Anim Sci Biotechnol. 2025 Jun 16;16(1):85. doi: 10.1186/s40104-025-01225-6. PMID: 40524217; PMCID: PMC12168420.

[7] BMKG, 2026. Prediksi Musim Kemarai 2026 di Indonesia. Direktorat Perubahan Iklim, BMKG. Jakarta, email: avi@bmkg.go.id

[8] Khamas & Rutlant, 2024. “Anatomy and Histology of the Domestic Chicken”. John Wiley & Sons, Inc.

[9] Fathima S, Hakeem WGA, Shanmugasundaram R, Selvaraj RK. Necrotic Enteritis in Broiler Chickens: A Review on the Pathogen, Pathogenesis, and Prevention. Microorganisms. 2022 Sep 30;10(10):1958. doi: 10.3390/microorganisms10101958. PMID: 36296234; PMCID: PMC9610872.

[10] Kouchey AB, Shah SA, Shafi M, Farooq S, Showkat S, Bashir A, Kamil SA, Mir MS, Hassan MN, Wani ZA, Rather MA. Prevalence, molecular detection, and histopathological analysis of necrotic enteritis in chickens. Open Vet J. 2025 Sep;15(9):4248-4254. doi: 10.5455/OVJ.2025.v15.i9.31. Epub 2025 Sep 30. PMID: 41200316; PMCID: PMC12587982.

[11] Manual Penyakit Unggas : Kolera Unggas, ISIKHNAS

[12] Fowl Cholera, Pasteurellosis. 2019. https://www.thepoultrysite.com/disease-guide/fowl-cholera-pasteurellosis (diakses 17 Juni 2026) dan berbagai sumber lain

[13] Hendrix Genetik. https://layinghens.hendrix-genetics.com/en/articles/fowl-cholera-in-laying_hens/ (diakses 17 Juni 2026)

Topik Terkait

Bagikan Artikel:
Berlangganan sekarang

Update informasi terkini seputar peternakan dan hewan kesayangan.

Artikel Lainnya

Cari Informasi yang Anda Butuhkan