Jagung dan Bungkil Kacang Kedelai Terbatas, Formulasi Pakan perlu Beradaptasi

Daftar isi

Pak Herwandi – By email

Saya sebagai peternak yang mencampur pakan sendiri, dikondisi saat ini untuk mendapatkan jagung dan BKK cukup sulit karena ketersediaan terbatas dan harganya juga naik. Bagaimana cara saya bisa menjaga nutrisi pakan tetap memenuhi kebutuhan ternak dengan biaya yang efisien? Apakah Medion ada saran bahan baku alternatif yang bisa digunakan?

Jawab :

Yth. Bapak Herwandi, terima kasih atas pertanyaannya. Bahan baku pakan seperti jagung dan bungkil kacang kedelai (BKK) memiliki proporsi yang cukup tinggi dalam susunan formulai pakan. Jagung umumnya menjadi salah satu sumber energi utama dengan penggunaan sekitar 40-55%, sedangkan BKK merupakan sumber protein utama dengan penggunaan sekitar 20-35% dalam formulasi pakan unggas. Oleh karena itu, perubahan harga kedua bahan baku tersebut dapat berdampak langsung terhadap biaya pakan. Hal ini perlu menjadi perhatian karena biaya pakan dapat mencapai sekitar 70% dari total biaya produksi dalam usaha peternakan unggas (Akhadiarto et al., 2025).

Pada tahun 2026, pemerintah telah mengambil berbagai langkah untuk menjaga ketersediaan dan stabilitas harga bahan baku pakan, antara lain melalui program Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan (SPHP) jagung serta kebijakan pemusatan impor BKK melalui Perum BULOG/Berdikari. Kementerian Pertanian menyampaikan bahwa tekanan terhadap harga pakan saat ini dipengaruhi oleh kombinasi faktor global dan domestik, salah satunya adalah perubahan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat yang dapat berdampak pada harga bahan baku pakan impor, seperti BKK, Corn Gluten Meal (CGM), mineral, dan bahan baku impor lainnya. Kondisi tersebut turut tercermin di beberapa wilayah, di mana berdasarkan informasi yang diterima dari pelanggan per 21 September 2026, harga jagung yang diterima berada pada kisaran Rp7.100–7.300/kg, sedangkan harga BKK telah mencapai Rp9.000–10.000/kg, baik di dalam maupun luar pulau.

Mengapa Perlu Mencari Bahan Baku Alternatif?

Dalam kondisi kenaikan harga bahan baku, formulasi pakan tidak dapat hanya didasarkan pada pertimbangan harga bahan baku per kilogram. Setiap bahan baku perlu dievaluasi berdasarkan kontribusi nutrien yang diberikan, meliputi energi, protein, asam amino, lemak, fosfor, dan serat, serta tingkat ketersediaan nutriennya bagi ternak. Hal ini sejalan dengan prinsip formulasi pakan, yaitu memenuhi kebutuhan nutrien ayam melalui kombinasi bahan baku yang tepat dengan tetap mempertimbangkan efisiensi biaya ransum (Liu, 2011).

Salah satu upaya untuk menjaga efisiensi biaya ransum adalah dengan memanfaatkan bahan baku alternatif yang tetap mampu memenuhi kebutuhan nutrien ayam. Beberapa bahan baku alternatif yang berpotensi digunakan sebagai sumber protein antara lain Distillers Dried Grains with Solubles (DDGS), Corn Gluten Meal (CGM), Corn Fermented Protein (CFP), bungkil sawit, Full Fat Soybean, dan Rice DDGS. Di antara bahan tersebut, Rice DDGS dapat menjadi salah satu alternatif bahan baku sumber protein dan bahkan bisa digunakan sebagai sumber energi dalam formulasi pakan (Gambar 1).

1
Gambar 1. Bahan baku rice DDGS (Foto : Dok. Hind Agro Export 2026)

Rice DDGS Sebagai Alternatif 

Rice DDGS merupakan produk samping dari proses produksi etanol berbahan baku beras. Selama fermentasi, sebagian besar pati dalam beras diubah menjadi etanol dan karbon dioksida, sedangkan protein, lemak, mineral, dan komponen nutien lainnya tetap berada dalam sisa hasil fermentasi yang kemudian dikeringkan menjadi rice DDGS (Liu, 2011). Penelitian Singh et al., (2011) menunjukkan bahwa rice DDGS merupakan salah satu sumber energi sekaligus mengandung asam amino yang mudah dicerna dan fosfor tersedia yang berpotensi digunakan dalam pakan. Namun, kandungan nutrisi Rice DDGS dapat berbeda sesuai dengan bahan baku asal dan proses produksi termasuk kondisi fermentasi dan proses pengolahan. Berikut merupakan beberapa nilai nutrisi bahan baku Rice DDGS (Tabel 1).

2

Penggunaan Rice DDGS untuk Peternak Self Mixing

Penggunaan bahan baku alternatif dapat memberikan peluang untuk mengoptimalkan biaya pakan terutama untuk peternak self mixing. Rice DDGS banyak digunakan sebagai substitusi bahan baku BKK seperti penelitian Khose at al. (2021) pada broiler menunjukkan bahwa rice DDGS dapat digunakan sebagai pengganti sebagian sumber protein dibantu pemberian enzim. Pada ayam petelur, rice DDGS juga telah diteliti oleh Raju et al. (2023) sebagai bahan pakan alternatif. Raju et al. (2023) melaporkan bahwa penggunaan rice DDGS hingga 7,5% tidak memberikan efek negatif terhadap produksi telur, efisiensi pakan, dan egg mass, sedangkan penggunaan 15% menurunkan beberapa parameter performa dan retensi nutrien. Penelitian Vinay et al. (2019) pada ayam petelur menunjukkan bahwa rice DDGS hingga 10% dapat digunakan dengan imbuhan enzim. Berdasarkan data tersebut, maka penggunaan rice DDGS dapat diberikan 7,5-10% dalam susunan pakan.

Pada peternak self mixing, kebutuhan mikro juga perlu diperhatikan ketika formulasi bahan baku makro mengalami perubahan. Oleh karena itu, penggunaan premiks dapat menjadi bagian dari strategi untuk membantu memenuhi kebutuhan mikro dalam ransum seperti Mix Plus LLM3B untuk top up dan back up kebutuhan mikro nutrien. Penggunaan rice DDGS juga perlu mempertimbangkan keberadaan antinutrisi seperti fitat dan NSP yang dapat membatasi pemanfaatan nutrien. Enzim diberikan untuk membantu meningkatkan ketersediaan dan pemanfaatan nutrien dari ransum yang mengandung rice DDGS seperti Prozyme yang mengandung multienzim yaitu phytase, xylanase, amylase dan protease serta dilengkapi biokatalis yang mempercepat kerja enzim (Gambar 2).

3
Gambar 2. Premix Self Mixing (Mix Plus LLM3B) dan Multienzim (Prozyme)

Oleh karena itu, penggunaan bahan baku alternatif dalam formulasi pakan dapat dipertimbangkan saat jagung dan BKK terbatas dan harganya terus meningkat. Rice DDGS dapat menjadi salah satu alternatif dalam formulasi self mixing sebagai sumber protein maupun energi, dengan tetap mempertimbangkan kualitas bahan, level penggunaan, keseimbangan nutrien, serta ketersediaan nutriennya. Perubahan komposisi bahan baku juga perlu diikuti dengan penyesuaian kebutuhan vitamin, mineral, ataupun enzim untuk membantu mengoptimalkan pemanfaatan nutrien. Dengan demikian, bahan baku alternatif bukan sekadar pengganti jagung atau BKK, tetapi menjadi bagian dari strategi formulasi agar biaya pakan tetap efisien tanpa mengorbankan kebutuhan dan performa ayam.

Topik Terkait

Bagikan Artikel:
Berlangganan sekarang

Update informasi terkini seputar peternakan dan hewan kesayangan.

Artikel Lainnya

Cari Informasi yang Anda Butuhkan