Penyakit Newcastle Disease (ND) merupakan salah satu penyakit virus unggas yang penting. Penyakit ini memiliki pola penyebaran dan penularannya yang cepat, serta mengakibatkan kerugian ekonomi yang cukup besar. Kita tentu tidak asing lagi dengan salah satu penyakit unggas endemik di Indonesia ini. Berbagai upaya telah dilakukan untuk menekan angka kejadian penyakit ND di peternakan. Kombinasi biosecurity dan vaksinasi serta manajemen pemeliharaan yang baik tentunya masih merupakan cara utama untuk pencegahannya. Namun kasus ND masih saja muncul di setiap tahunnya. Berdasarkan data yang berhasil dikumpulkan oleh tim Technical Education and Consultation PT. Medion, penyakit ND masih menempati 5 besar penyakit viral secara nasional, baik pada ayam layer maupun broiler meskipun program vaksinasi sudah dilaksanakan dengan rutin. Beberapa faktor penyebab masih tingginya penyakit ND tersebut akan coba untuk kita ulas.

1. Faktor lingkungan eksternal

Dari tahun 2019 hingga 2020 penyakit ND ini cenderung meningkat pada bulan-bulan pergantian musim dan musim penghujan. Seperti yang kita ketahui, peralihan tersebut menyebabkan ayam rentan mengalami stres dan berakibat turunnya kekebalan tubuh ayam. Dalam kondisi demikian, ayam akan mudah terserang penyakit salah satunya ND.

2. Faktor internal virus penyebab ND

Newcastle Disease (ND) ditemukan pertama kali di daerah Newcastle, Inggris pada tahun 1926. Penyakit ini disebabkan oleh virus Avian paramyxovirus-1 (APMV-1) yang termasuk dalam genus Avulavirus dalam famili Paramyxoviridae. Virus ND memiliki genom single stranded (ss) RNA dengan struktur beramplop. Pembagian secara serotipe nya, virus ND yang menyerang unggas termasuk ke dalam Avian paramyxo virus I (APMV-1). Keganasan (patotipe) dari virus ND juga dibagi lagi menjadi 4 kelompok :

a). Velogenik : tingkat keganasan tinggi

b). Mesogenik : tingkat keganasan sedang

c). Lentogenik : tingkat keganasan ringan

d). Apathogenic enterotropic : virus ND yang tidak ganas.

Penggolongan ND berikutnya adalah berdasarkan genotipenya. Seiring dengan perkembangan teknologi terkini. Klasifikasi virus ND dibedakan berdasarkan materi inti virus melalui DNA sequencing. Dalam penggolongan ini, virus ND dibedakan menjadi 10 genotipe. Genotipe yang dominan bersirkulasi di dunia dan bersifat virulen adalah : V, VI, VII dan VIII. Genotipe yang ada di ASIA adalah VI (1960 s/d 1985).

Medion selalu aktif mengikuti perkembangan kasus-kasus ND di lapangan. Berdasarkan data yang dikumpulkan oleh tim Technical Education and Consultation dari sampel organ ayam sakit diduga terinfeksi ND selama 3 tahun terakhir, kasus ND yang terkonfirmasi positif dari data PCR (Polymerase Chain Reaction) menunjukkan adanya peningkatan kasus sebesar 20,04%

Hasil uji PCR tersebut kemudian dilanjutkan dengan uji DNA sequencing. Proses DNA sequencing dilakukan untuk melihat susunan genetik dari virus ND. Hasil dari analisa tersebut ditemukan bahwa virus ND yang dominan bersirkulasi di Indonesia saat ini adalah Virus ND Genotipe 7 (velogenic) dimana virus tersebut terpisah jauh dengan virus ND lama Genotipe 2 (La Sota). ND kelompok velogenik merupakan virus ND yang memiliki tingkat keganasan tinggi sehingga ketika menginfeksi ke dalam tubuh ayam akan menyebabkan tingkat kematian yang tinggi pula. ND velogenik sendiri terbagi menjadi 2 kelompok, pertama adalah Viscerotropic velogenic. Serangan ND kelompok ini bersifat akut dengan mortalitas yang tinggi. Perubahan khas yang sering ditemukan pada ayam yang terinfeksi virus ini ialah luka dan hemoragi pada usus. Ayam akan menunjukkan gejala lesu, penurunan nafsu makan, produksi telur secara drastis, diare dan tingkat kematiannya > 90%. Bentuk kedua adalah Neurotropic velogenic yang ditandai dengan munculnya gangguan pernapasan serta kelainan pada syaraf yang umum disebut torticolis atau tetelo. Ayam yang terserang menjadi lemah karena kesulitan makan dan minum.

Berikut pada grafik 3. proporsi kasus ND genotipe 7 yang berhasil dianalisa oleh Medion. Dari grafik berikut kasus ND genotipe 7 yang dominan bersirkulasi di Indonesia terdapat dua subgenotipe yakni ND G7 a/i dan ND genotipe h (Shohaimi et al, 2015 & Dimitrov et al, 2016).

Lebih dalam kita lihat dari kasus-kasus ND tersebut sudah tersebar di seluruh bagian Indonesia seperti terlihat pada peta di bawah ini.

Diagnosa ND di Lapangan

Ketepatan dalam mendiagnosa suatu penyakit menentukan keberhasilan dalam penaganannya di lapangan. Namun sayangnya, saat ini kendala dalam melakukan diagnosa penyakit ND yang menyerang dikarenakan ciri-ciri gejala klinis dan perubahan patologi anatomi yang muncul cukup sulit dibedakan dengan serangan penyakit lain. Selain itu virus ND yang menyerang biasanya tidak berdiri sendiri, namun berupa kombinasi dengan penyakit viral ataupun bakterial lainnya. Berikut pada grafik 4. serangan ND baik tunggal maupun kombinasi dengan penyakit viral pada sepanjang tahun 2020. Pengamatan gejala klinis dan perubahan patologi anatomi harus dilakukan secara menyeluruh karena penyakit ND dapat menyerang hampir semua sistem tubuh. Gejala klinis yang tampak akibat ND masih sama dengan tahun-tahun sebelumnya, ciri-ciri yang dapat dilihat dari luar adalah gangguan saluran pernapasan, seperti gasping atau terdengar suara ngorok. Gejala lain yang muncul seperti ayam lemas, nafsu makan turun, bulu kusam, diare berwarna hijau lumut bercampur putih serta masih ditemukan ayam yang mengalami tortikolis.

Secara kuantitas, produksi telur mengalami penurunan bervariasi mulai dari 7 sampai 60%, dari segi kualitas telur dari ayam yang terinfeksi ND biasanya berwarna pucat disertai ukuran telur yang kecil. Sedangkan untuk angka kematian akibat infeksi ND variatif mulai dari 5-100% tergantung jenis ND yang menyerang.

Selain pengamatan gejala klinis, perubahan patologi anatomi ND juga memiliki beberpa kemiripan dengan penyakit yang lain. Beberapa perubahan yang ditemukan pada kasus ND yang terkonfirmasi dari hasil uji PCR seperti yang tertera pada grafik 5. berikut.

Patologi anatomi yang terlihat ketika dilakukan bedah pada ayam dengan gejala klinis mengarah ke ND antara lain adanya peradangan pada saluran pernapasan, meliputi laryng dan trachea. Pada saluran pencernaan ditemukan adanya enteritis, selain itu ditemukan juga salah satu gejala khas (patognomonis) pada kasus ND, yakni adanya peradangan pada papila proventrikulus serta pada organ limphoid yang ada di saluran pencernaan yakni peyer patches dan caeca tonsil. Pada sistem reproduksi ditemukan adanya ovarium yang radang dan bentuknya lembek menyerupai bunga kol.

Temuan perubahan-perubahan patologi anatomi tersebut di lapangan sangat variatif dan seringkali dikelirukan dengan penyakit viral lain sepeti AI, IB, dan penyakit bakterial misalnya CRD dan Coryza. Oleh karena itu dalam kondisi tersebut diperlukan juga adanya suatu peneguhan dengan uji lab. Uji yang umum dilakukan oleh peternak antara lain uji serologi dengan HI test untuk membantu mengarahkan diagnosa, bahkan sampai dengan uji isolasi dan identifikasi keberadaan agen infeksi virus ND dengan menggunakan uji PCR dan sequencing.

Pengendalian Penyakit ND

Vaksinasi dapat mencegah kerugian yang ditimbulkan akibat penyakit ini. Terkait dengan vaksinasi ND, agar vaksinasi berhasil membentuk kekebalan/antibodi optimal dan mampu melindungi ayam dari serangan ND, ada beberapa hal yang harus diperhatikan di bawah ini:

a. Kualitas fisik dari vaksin masih baik

Gunakan vaksin ND yang kualitasnya masih baik dan sudah teregistrasi. Baik di sini artinya segelnya masih utuh, bentuknya tidak berubah, vaksin belum kadaluarsa, serta etiketnya masih terpasang dengan baik.

b. Sebaiknya gunakan vaksin homolog

Pemilihan jenis vaksin yang tepat sangat berpengaruh terhadap keberhasilan vaksinasi dalam menangkal serangan virus. Vaksin yang baik adalah vaksin yang kandungan virusnya homolog dengan virus lapang yang akan memberikan perlindungan lebih optimal dan mampu menekan viral shedding (mencegah penyebaran virus ND di lapangan). Agar vaksin tetap update, maka vaksin yang ada perlu diuji menggunakan virus tantang terkini. Jika lulus, maka vaksin masih dapat digunakan untuk menghadapi virus yang bersirkulasi saat ini. Dari pohon kekerabatan virus ND menunjukkan bahwa virus ND yang dominan bersirkulasi di Indonesia hingga saat ini yaitu Genotipe 7.

Salah satu vaksin ND yang homolog dengan virus ND lapangan adalah Medivac ND T Emulsion adalah generasi terbaru dari vaksin ND inaktif berbentuk emulsi untuk mencegah ND pada unggas. Medivac ND T Emulsion mengandung virus Newcastle disease (ND) genotipe II strain La Sota dan isolat lapang terkini yang termasuk ke dalam genotipe VII yaitu strain MD54 dan MD65 yang mampu melindungi terhadap ND genotipe 7h dan 7a/i.

Medion juga memproduksi berbagai vaksin ND inaktif yang homolog dengan virus ND lapangan seperti vaksin Medivac ND G7 Emulsion, Medivac ND G7-EDS Emulsion, Medivac ND G7-EDS-IB Emulsion, dan Medivac ND G7-IB Emulsion.

Vaksin klasik terutama vaksin aktif seperti vaksin Medivac ND La Sota, Medivac ND Hitchner B1, Medivac Clone 45, atau Medivac ND-IB tetap perlu diberikan untuk menggertak pembentukan kekebalan ND secara cepat dan protektif. Selain itu, pada dasarnya virus ND memiliki cross protection (perlindungan silang) antar patotipe virus. Jadi, antara vaksin ND klasik dan ND G7B memiliki perlindungan silang.

c. Susun program vaksinasi ND sesuai kondisi masing-masing farm

Pertimbangkan terlebih dahulu mengenai umur serangan penyakit, umur ayam, data monitoring titer antibodi, dan jenis vaksin ND yang digunakan.

Vaksin ND aktif memiliki kemampuan menggertak pembentukan antibodi yang lebih cepat dibandingkan vaksin ND inaktif. Dalam waktu 2-3 minggu titer antibodi hasil vaksinasi dengan vaksin ND aktif telah mencapai standar protektif, sedangkan vaksin ND inaktif baru mencapai standar protektif pada 3-4 minggu. Meskipun demikian, titer antibodi yang dihasilkan vaksin ND inaktif relatif bertahan lebih lama di atas protektif dibandingkan vaksin ND aktif.

Berdasarkan pola pembentukan titer antibodi tersebut maka sebagai panduan umum, vaksinasi ND pada ayam broiler dapat diberikan 1 kali yakni pada umur 4 hari dengan vaksin aktif sekaligus ND killed. Pada ayam layer vaksinasi ND diberikan 4-5 kali sebelum memasuki periode bertelur. Vaksinasi ND pertama diberikan seperti pada ayam broiler. Pengulangan vaksinasi ND di masa produksi jika menggunakan vaksin aktif bisa dilakukan 1-2 bulan sekali, sedangkan jika menggunakan vaksin inaktif bisa dilakukan 2-3 bulan sekali. Jadwal revaksinasi yang tepat bisa juga didasarkan atas hasil monitoring titer antibodi terhadap ND.

Khusus saat vaksinasi ND pertama, yaitu di umur 4 hari, umumnya lebih disarankan agar peternak memberikan vaksinasi ND aktif sekaligus inaktif. Bukan tanpa alasan rekomendasi tersebut dibuat. Alasan pertama karena tentu saja stres vaksinasinya relatif lebih ringan dibandingkan jika vaksinasi dilakukan secara terpisah. Selain itu, terkait dengan mekanisme pembentukan antibodi kedua vaksin tersebut, antibodi vaksin aktif mulai terbentuk pada 3-4 hari post vaksinasi dan mencapai standar protektif pada 2-3 minggu post vaksinasi. Sedangkan vaksin inaktif mulai terbentuk pada 6-7 hari post vaksinasi dan mencapai standar protektif pada 3-4 minggu post vaksinasi.

Oleh karena itu, saat vaksinasi menggunakan vaksin aktif sekaligus inaktif, antibodi yang pertama bekerja berasal dari vaksin aktif, kemudian baru dilanjutkan antibodi dari vaksin inaktif. Jadi, saat titer antibodi vaksin aktif mulai turun (kekebalan hasil vaksinasi aktif cepat terbentuk tapi cepat turun), titer antibodi hasil vaksin inaktif (kekebalan vaksin inaktif lambat terbentuk tapi bertahan lebih lama) masih di atas protektif (melindungi).

d. Perhatikan cara handling/penanganan vaksin ND sejak dibeli hingga diberikan pada ayam.

  • Saat distribusi dan penyimpanan sementara, suhu vaksin ND harus selalu terkondisikan pada suhu 2-8oC.
  • Sebelum diberikan ke ayam, jangan lupakan proses thawing. Thawing bertujuan menaikkan suhu vaksin yang sebelumnya 2-8oC mendekati suhu tubuh ayam (±41oC) atau sampai vaksin tidak terasa dingin lagi, yaitu dengan suhu sekitar 25-27oC. Setelah di-thawing, sebaiknya vaksin ND tidak dimasukkan lagi ke dalam lemari pendingin/marina cooler karena bisa menurunkan potensi vaksin.
  • Vaksin ND aktif harus habis diberikan maksimal 2 jam, sedangkan vaksin ND inaktif harus habis dalam waktu 24 jam.
  • Jika vaksin ND tidak habis, maka sisanya tidak bisa disimpan untuk kemudian digunakan lagi. Sisa vaksin dan kemasannya harus direndam desinfektan terlebih dahulu, baru kemudian dibuang/dikubur.

e. Pastikan dosis vaksin ND yang diberikan sudah benar.

f. Sebelum divaksin, ayam berada dalam kondisi sehat dan tidak dalam kondisi imunosupresi (contohnya stres atau terserang penyakit CRD, Gumboro, mikotoksin, dll) yang dapat menurunkan keoptimalan pembentukan titer antibodi.

g. Keterampilan vaksinator harus baik agar aplikasi vaksinasi bisa dilakukan dengan benar.

Upaya lainnya yang penting dilakukan untuk mendukung vaksinasi dan keberhasilan pencegahan ND, diantaranya:

  • Perlakuan manajemen yang baik perlu diperhatikan untuk mengurangi kemungkinan stres dan imunosupresi pada ayam. Upayakan kondisi litter tetap kering dan konsentrasi amonia rendah. Kadar amonia yang tinggi menyebabkan iritasi saluran pernapasan atas yang dapat memicu infeksi penyakit pernapasan. Sesuaikan pula kepadatan dalam kandang untuk meminimalisir stres. Pastikan sirkulasi udara di kandang cukup, sedapat mungkin dilakukan sistem “all in all out” dan penerapan istirahat kandang minimal 2 minggu.
  • Pemberian multivitamin seperti Vita Stress atau Fortevit berperan untuk meningkatkan stamina dan daya tahan tubuh ayam. Berikan Imustim, imunostimulan herbal yang dapat membantu meningkatkan fungsi sistem kekebalan. Pemberian Imustim sebelum dan sesudah vaksinasi terbukti bekerja dengan mempercepat peningkatan titer antibodi hasil vaksinasi. Imustim diberikan 0.5 – 1 ml per 2 liter air minum 3 hari berturut-turut sebelum dan setelah periode vaksinasi agar hasil vaksinasi lebih optimal.
  • Selain vitamin, premiks juga bisa ditambahkan dalam ransum sehingga proses metabolisme pertahanan tubuh ayam berjalan maksimal.
  • Batasi lalu lintas orang/kendaraan yang keluar masuk kandang. Jika akan masuk kandang, lakukan desinfeksi baik kendaraan maupun personil, terutama jika datang dari kandang peternakan yang terinfeksi. Tidak menutup kemungkinan feses yang tercemar virus ND terbawa melalui roda kendaraan/alas kaki.
  • Melakukan sanitasi kandang dan peralatan (kandang dibersihkan, dicuci dan disemprot) dengan Neo Antisep atau Medisep, mencegah tamu, hewan liar dan hewan peliharaan lain masuk ke lingkungan kandang. Apabila sedang terjadi outbreak maka penyemprotan dilakukan setiap hari karena penularan virus ND dapat terjadi melalui udara. Lakukan sanitasi air minum dengan memberikan antiseptik seperti Desinsep atau Neo Antisep guna menekan penularan penyakit melalui air minum.

Dengan menerapkan langkah-langkah di atas, diharapkan peternak mendapat pencerahan mengenai cara menghindari ancaman ND, sehingga kasus ND pun di peternakan Indonesia bisa menurun atau bahkan tidak kembali terulang. Salam.

Penyakit ND Terkini dan Strategi Jitu Pengendaliannya
Tagged on:                         
Subscribe To Our Newsletter
We respect your privacy. Your information is safe and will never be shared.
Don't miss out. Subscribe today.
×
×
WordPress Popup Plugin