Mengenal IBD Variant

mengenal ibd variant
Daftar isi

Infectious Bursal Disease (IBD) merupakan penyakit imunosupresif akut yang sangat menular pada ayam muda yang disebabkan oleh Infectious Bursal Disease Virus (IBDV). IBD pertama kali ditemukan di wilayah Gumboro, Delaware, Amerika Serikat pada tahun 1962. Daerah saat pertama kali ditemukan inilah yang menjadikan IBD seringkali disebut penyakit Gumboro. Hingga saat ini kasus infeksi IBD masih menjadi penyakit yang diwaspadai di industri perunggasan karena tingkat mortalitas dan morbiditasnya yang tinggi dan berdampak pada kerugian ekonomi yang besar.

Penyakit IBD Secara Umum 

Penyakit Gumboro atau IBD disebabkan oleh virus IBD yang termasuk ke dalam kelompok virus RNA rantai ganda (double stranded) dari family Birnaviridae dan genus Avibirnavirus. Virus IBD tidak beramplop sehingga lebih stabil dan tahan lama di lingkungan hingga lebih dari 3 bulan. Struktur virus tidak beramplop ini juga menyebabkan virus hanya sensitif terhadap golongan desinfektan golongan aldehide dan iodine serta tidak sensitif terhadap golongan ammonium quartener. Masa inkubasi dari penyakit ini adalah 2 – 3 hari dan ditularkan secara horizontal dari ayam yang sakit ke ayam yang sehat. Penyakit ini menular dari ayam yang sakit melalui leleran tubuh atau kotoran ayam yang terinfeksi baik secara langsung maupun tidak langsung. Penularan secara tidak langsung dapat melalui media seperti litter, tempat air minum dan pakan, perlengkapan peternakan, alat transportasi atau pekerja yang terkontaminasi feses mengandung virus IBD. 

Data 3 tahun terakhir (2024-2026) yang dikumpulkan oleh Medion menunjukkan kasus IBD pada ayam pedaging terjadi pada minggu ke-3 dan pada ayam petelur kasus IBD paling banyak di umur 0-5 minggu. Hal ini berhubungan dengan bursa Fabrisius yang menjadi organ utama yang diserang oleh virus IBD. Bursa Fabrisius berkembang aktif pada umur 3-4 minggu sehingga pada umur tersebut menjadi umur paling beresiko terjadinya infeksi IBD. Namun, kasus IBD tetap perlu diwaspadai pada umur kurang dari 3 minggu. Umumnya kasus IBD di bawah 3 minggu ini bersifat subklinis (tanpa tanda dan gejala klinis) dan memiliki sifat imunosupresif besar sehingga dapat menggagalkan program vaksinasi. Meskipun demikian, tidak menutup kemungkinan kasus IBD pada umur di bawah 3 minggu juga dapat bersifat klinis dan menunjukkan gejala.

Dampak imunosupresif menjadi dampak yang paling dikhawatirkan dari kasus IBD selain dari dampak mortalitas dan morbiditasnya. Hal ini karena virus IBD menyerang sistem kekebalan tubuh ayam khususnya organ bursa Fabrisius yang terletak di bagian atas lubang dubur (kloaka) ayam. Dalam kondisi normal, bursa Fabrisius mengalami regresi pada awal dewasa kelamin.

Bursa Fabrisius merupakan tempat berkumpulnya sebagian besar sel limfosit B yang belum matang (immature). Sel ini akan mengalami pematangan di bursa Fabrisius. Sel limfosit B yang sudah matang (mature) apabila bertemu dengan antigen (virus lapang atau vaksin) akan teraktifvasi dan membentuk antibodi. Ketika virus IBD menyerang sel limfosit B yang belum matang, maka jumlah sel limfosit B matang akan berkurang. Menurunnya jumlah sel limfosit B matang berbanding lurus dengan jumlah antibodi yang terbentuk.

1
Gambar 1. Gejala klinis dan patologi anatomi infeksi Gumboro (Sumber: Dok. Medion)

Gejala klinis yang tampak dari infeksi IBD bergantung pada strain virus yang menginfeksi ayam, jumlah virus, umur, strain ayam, rute penularan, dan tingkat antibodi pada tiap individu ayam. Gejala klinis infeksi IBD yakni ayam terlihat gemetar, demam, dehidrasi, bulu kusam dan berdiri, serta diare berwarna putih. Saat dilakukan nekropsi didapatkan perubahan organ (patologi anatomi) seperti peradangan pada bursa Fabrisius, peradangan pada perbatasan proventrikulus dengan ventrikulus, perdarahan tipe garis (striae) pada otot paha dan dada serta ginjal bengkak (Gambar 1).

Diagnosis infeksi IBD dilakukan berdasarkan gejala klinis dan perubahan patologi anatomi. Patognomonis atau perubahan khas dari penyakit ini adalah peradangan pada bursa Fabrisius. Meskipun demikian, pengamatan perubahan pada seluruh organ tetap perlu dilakukan karena patologi anatominya bisa mirip dengan Newcastle Disease (ND) dan penyakit imunosupresif lainnya. Perlu diwaspadai juga terkait infeksi sekunder yang menyertai seperti ND, Colibacillosis dan Coccidiosis. Diagnosis IBD juga dapat dilakukan dengan mengidentifikasi agen virus penyebabnya melalui PCR dan sequencing.

Beberapa faktor predisposisi yang menyebabkan infeksi IBD terus muncul meskipun sudah dilakukan vaksinasi yaitu :

  • Manajemen brooding yang kurang optimal
  • Adanya faktor imunosupresan seperti kondisi stres, penyakit koksidiosis, dll
  • Keberadaan kumbang Franky sebagai vektor pembawa virus IBD
  • Waktu istirahat kandang yang kurang optimal
  • Program dan aplikasi vaksinasi kurang tepat
  • Penerapan biosecurity yang kurang baik

IBD Variant

Virus penyebab IBD dikelompokkan berdasarkan fenotipe dan genotipe. Fenotipe ini didasarkan pada petogenesitas dan antigenesitas virus yang mengelompokkan menjadi serotipe 1 yang bersifat patogen pada ayam dan serotipe 2 bersifat non patogen. Serotipe 1 kemudian diklasifikasikan dalam tiga patotipe berdasarkan virulensinya, yaitu virus IBD klasik, virus IBD variant dan virus IBD sangat virulen (very virulent IBD). Berdasarkan genotipe, virus IBD diklasifikasikan dalam tiga genogrup yakni genogrup 1 (virus IBD klasik), genogrup 2 (virus IBD variant), dan genogrup 3 (virus IBD sangat virulen).

bagan pengelompokan virus ibd
Gambar 2. Bagan pengelompokan virus IBD

Virus IBD yang ditemukan di lapangan semenjak 2019 hingga sekarang didominasi oleh virus IBD sangat virulen (vvIBD), merupakan kelompok virus IBD yang sangat ganas. Hal ini berpengaruh pada mortalitas yang lebih tinggi (25-80%) pada kasus IBD. Apabila dibandingkan dengan kelompok virus IBD klasik, vvIBD menimbulkan gejala klinis dan perubahan anatomi yang mirip. Namun vvIBD menyebabkan hemoragi bursa Fabricius dan jaringan otot yang lebih parah dan berlangsung secara akut. 

Dibandingkan dengan vvIBD, virus IBD variant tidak menimbulkan gejala klinis namun memiliki efek imunosupresan permanen yang menyebabkan atropi pada bursa Fabrisius. Virus IBD variant menyerang organ kekebalan lain seperti limpa, caeca tonsil, thymus, dan sumsum tulang. Dapat ditemukan pembengkakan pada limpa, peradangan pada thymus dan atropi. Virus ini disebut menyebabkan gejala klinis persisten dengan kematian <5% atau bahkan tanpa kematian. 

Persistensi virus IBD variant yang berkepanjangan di organ limfoid primer dan sekunder menyoroti potensi imunosupresifnya yang kuat serta menjelaskan kaitannya dengan kegagalan vaksinasi dan peningkatan kerentanan terhadap infeksi sekunder. Selain itu, tropisme multi-organ yang teramati mengindikasikan bahwa ayam yang terinfeksi dapat menjadi sumber pelepasan virus dalam jangka waktu lama, sehingga menuntut penerapan langkah-langkah biosecurity dan surveillance (pengamatan) yang lebih ketat.

Pengendalian dan Pencegahan

Dampak imunusupresif akibat penyakit Gumboro manjadi mendorong untuk peternak lebih waspada. Tindakan pencegahan menjadi alternatif solusi untuk mengendalikan penyakit ini. Kombinasi antara vaksinasi, biosecurity dan manajemen pemeliharaan yang baik dapat menjadi kunci pengendalian penyakit Gumboro. 

1. Vaksinasi Gumboro 

Vaksinasi Gumboro aktif konvensional dapat dilakukan minimal 2 minggu sebelum umur serangan penyakit di periode sebelumnya. Jika kasus terjadi pada umur <21 hari atau terdapat kematian >5%, maka dapat menggunakan vaksin Medivac Gumboro A. Sedangkan bila kasus terjadi pada umur >21 hari dengan kematian <5%, maka dapat menggunakan vaksin Medivac Gumboro B. Untuk peternakan petelur dan pembibit dengan umur pemeliharaan yang panjang, dapat pula mengkombinasikan penggunaan vaksin aktif dan inaktif baik sebagai priming ataupun pengulangan. Sekarang ini juga sudah tidak asing dengan vaksinasi Gumboro di hatchery. Vaksin Gumboro imun kompleks seperti Medivac Gumboplex, biasanya diaplikasikan di hatchery atau saat ayam berumur 0-1 hari.

2. Biosecurity

Biosecurity perlu diperketat untuk meminimalkan agen penyakit yang ada di dalam kandang. Virus Gumboro dapat bertahan hidup lebih dari 3 bulan di luar tubuh ayam dan masih bersifat infektif. Virus ini sangat peka terhadap desinfektan golongan aldehide seperti Formades dan golongan iodium.

3. Manajemen pemeliharaan yang baik

Persiapan kandang yang baik akan mengeliminasi virus IBD. Kandang dibersihkan dari litter dan feses. Setelah bersih dapat dilakukan desinfeksi dan penaburan kapur. Kemudian penerapan kosong kandang minimal 14 hari. Hal ini penting untuk memutus siklus hidup agen penyakit. Fase brooding membawa pengaruh yang sangat besar terhadap performa ayam dan terjadinya infeksi penyakit seperti Gumboro. Apabila terjadi kebocoran pada masa brooding karena manajemen yang kurang optimal, maka perkembangan tubuh ayam baik dari segi berat badan maupun perkembangan organ tidak akan maksimal. 

Pengobatan terhadap Gumboro

Tidak ada obat yang efektif menyembuhkan penyakit Gumboro. Tindakan yang dapat dilakukan yaitu dengan mengurangi angka kematian akibat kebengkakan ginjal, kehilangan energi, ataupun karena gejala klinis yang muncul akibat serangan Gumboro.

Lakukan seleksi terhadap ayam yang sakit. Pisahkan ayam yang sakit agar tidak menjadi sumber penularan. Desinfeksi kandang setiap hari selama ada kasus. Gunakan desinfektan dari golongan iodin (AntisepNeo Antisep). Berikan Reduvir 2 ml tiap liter air minum selama 5 – 7 hari sebagai antivirus alami yang dapat membantu mengurangi kematian pada unggas yang terinfeksi virus. Reduvir mengandung ekstrak Rhizoma coptidis dan Andrographis paniculata yang memiliki aktivitas antivirus serta mampu bekerja meningkatkan kekebalan tubuh.

reduvir
Gambar 3. Reduvir, membantu mengatasi infeksi virus pada unggas

Apabila muncul patologi anatomi ginjal bengkak makan dapat diberikan Gumbonal sebagai antiseptik saluran kemih untuk mengatasi ginjal bengkak. Pada pemberian Gumbonal sebaiknya tidak dicampur dengan antibiotik atau obat kimia yang lain. Pada kasus Gumboro yang disertai infeksi bakterial, dapat diberikan tambahan antibiotik sesuai penyakitnya. Sebaiknya dipilih antibiotik yang tidak memperberat kerja ginjal (golongan Sulfonamida dan Aminoglikosida).

Semoga informasi ini dapat menjadi tambahan peternak dalam mengenal kasus IBD atau Gumboro variant dan menjadi strategi pencegahan dalam mengatasi penyakit IBD secara komprehensif. 

Referensi :

  1. Hair-Bejo, M., Mazlan, M., Be, T. H., Han, C. H., Sohaimi, N. M., & Ugwu, C. C. (2026). Pathogenicity, immunogenicity, and multi-organ tissue tropism of a novel variant infectious bursal disease virus in specific pathogen-free chickens. Veterinary World19(2), 591-603. 
  2. Takahashi, M., Oguro, S., Kato, A., Ito, S., & Tsutsumi, N. (2024). Novel Antigenic Variant Infectious Bursal Disease Virus Outbreaks in Japan from 2014 to 2023 and Characterization of an Isolate from Chicken. Pathogens13(12), 1141.

Topik Terkait

Bagikan Artikel:
Berlangganan sekarang

Update informasi terkini seputar peternakan dan hewan kesayangan.

Artikel Lainnya

Cari Informasi yang Anda Butuhkan