Mengatasi Infeksi Cacing Hati yang Masih Sering Ditemukan

cara mengatasi cacing hati pada sapi
Daftar isi

Infeksi cacing hati pada ternak ruminansia masih signifikan ditemukan. Saat pemeriksaan hewan kurban, penemuan infeksi cacing hati hal yang umum dan rutin ditemukan. Di tahun 2026 inipun masih banyak informasi temuan cacing hati pada hewan kurban. Dari hasil pemeriksaan post mortem atau pemeriksaan setelah penyembelihan hewan masih ditemukan adanya kasus cacing hati. Meski jumlah kasus masih cukup tinggi, tingkat keparahan yang ditimbulkan cukup variatif. Mulai dari yang ringan, sedang maupun cukup parah.

Kondisi tersebut menunjukkan adanya pola pemeliharaan dan pengobatan yang dilakukan peternak juga variatif. Pada pola tingkat infeksi yang rendah menunjukkan para peternak mulai memperhatikan kualitas kesehatan ternak yang dipelihara. Beberapa peternak sudah melakukan pengobatan antelmintik secara berkala. Namun, karena secara umum kasus ini masih sering ditemukan, kita perlu memperbaiki cara pemeliharaan, terutama jadwal pemberian pakan dan pencegahan penyakit. Salah satu kebiasaan yang berisiko tinggi adalah menyabit rumput terlalu pagi saat masih berembun, karena telur atau larva cacing seringkali menempel kuat di ujung rumput pada jam-jam tersebut.

gambar sapi
Mempersiapkan ternak kurban bebas cacingan (Foto: lombokpost.jawapos.com)

Temuan Infeksi Cacing Hati

Untuk mendiagnosa penyakit cacing hati sejak dini perlu dilakukan pemeriksaan, gejala klinis, pemeriksaan organ hati atau uji laboratorium. Selain melalui uji laboratorium, peternak perlu waspada jika melihat perubahan fisik pada ternak, terutama jika infeksi sudah mulai parah. Gejala yang dapat muncul antara lain:

  • Gangguan pengeluaran feses: Ternak sulit buang air besar dengan kotoran yang kering, atau justru diare terus-menerus pada kasus menahun
  • Pertumbuhan terhambat: Ternak tampak lebih kecil dari kawanannya atau pertumbuhannya melambat meskipun pakan sudah cukup
  • Penurunan produktivitas: Target berat badan harian tidak tercapai dan produktivitas ternak merosot drastis.

Seringkali pada tahap ringan ternak terlihat sehat, namun hatinya mulai rusak. Itulah sebabnya pemeriksaan rutin sangat diperlukan. Pemeriksaan bedah bangkai/organ dalam hanya bisa dilakukan pada ternak yang sudah mati/ dilakukan penyembelihan. Hasil dari pemeriksaan organ akan ditemukan infestasi cacing dewasa pada hati, organ hati menjadi rusak dan penebalan pada saluran empedu.

pengamatan cacing hati
Pengamatan cacing hati yang ditemukan di organ hati sapi (Foto: Solopos.espos.id)

Uji laboratorium melalui pemeriksaan feses merupakan langkah krusial untuk menegakkan diagnosis secara akurat dengan mengidentifikasi keberadaan telur cacing secara mikroskopis. Keunggulan metode ini terletak pada kemampuannya mendeteksi infeksi sejak stadium awal (ringan) hingga kronis, sehingga memungkinkan langkah penanganan yang lebih efektif dan tepat sasaran.

Bagian hati yang ditemukan cacing hati tidak layak untuk dikonsumsi. Organ yang terinfeksi harus segera dipisahkan untuk mencegah risiko gangguan kesehatan. Tim kesehatan biasanya akan melakukan pengawasan saat sebelum pemotongan dan setelah pemotongan demi memberi keamanan kepada masyarakat dan konsumen.

Penyebab infeksi cacing hati pada sapi adalah Fasciola gigantica dan Fasciola hepatica. Sapi tertular saat memakan rumput yang tercemar larva cacing (metaserkaria) yang menempel pada pakan atau air minum. Telur cacing yang keluar bersama feses sapi yang terinfeksi, pada lingkungan yang lembap telur menetas dan menginfeksi siput air tawar (sebagai inang sementara). Setelah berkembang, larva keluar dari siput dan menempel pada rumput. Sapi yang memakan rumput yang terkontaminasi larva infektif tersebut, larva akan bermigrasi menembus dinding usus menuju hati dan saluran empedu untuk tumbuh menjadi cacing dewasa. Kemudian akan berkembang menjadi cacing dewasa selanjutnya dapat merusak organ hati.

Pencegahan Infeksi Cacing Hati

Sebelum terinfeksi cacing hati, peternak dapat memprogramkan pencegahan agar tidak terjadi kerugian. Beberapa dampak kerugian yang dirasakan antara lain penurunan berat badan, pertumbuhan bobot terhambat, penurunan kualitas daging dan jeroan, penurunan produksi susu, risiko penularan pada manusia (zoonosis). Untuk menghindari hal tersebut hal-hal yang dapat dilakukan antara lain:

  • Pemberian obat cacing untuk membasmi cacing hati dengan Wormzol Suspensi saat kedatangan bakalan. Jika pemeliharaan lebih panjang maka perlu dilakukan pengulan 3-4 bulan sekali.
  • Mencegah kandang becek, feses menumpuk & lembap. Rutin sanitasi kandang dan peralatan dengan membersihkan, mencuci dan menyemprot dengan desinfektan (Neo AntisepMedisep) setiap hari.
  • Pemberantasan inang sementara, yaitu siput air tawar.
  • Hindari pengambilan rumput dengan pemotongan minimal 30 cm dari permukaan tanah dan dilakukan saat sudah ada sinar matahari atau tidak berembun. Rumput perlu dikeringkan dengan cara dijemur di bawah sinar matahari.
  • Menghindari menggembalakan ternak pada pagi hari, sehingga ternak tidak mengonsumsi ujung rumput yang masih basah yang kemungkinan mengandung metaserkaria.
  • Monitoring telur dan larva cacing dengan melakukan pemeriksaan feses secara rutin setiap 2-3 bulan sekali sehingga ketika ditemukan adanya telur cacing di dalam feses dapat terdeteksi sejak awal.

Topik Terkait

Bagikan Artikel:
Berlangganan sekarang

Update informasi terkini seputar peternakan dan hewan kesayangan.

Artikel Lainnya

Cari Informasi yang Anda Butuhkan