Langkah Mitigasi Kondisi El Nino di Peternakan Sapi

Daftar isi

Belakangan ini tengah ramai diperbincangkan adanya lonjakan perubahan suhu dan cuaca yang sangat ekstrem menjelang pertengahan tahun 2026 yang mana diberi julukan “Godzilla El Nino“. Fenomena El Nino ini bisa menyebabkan kondisi kekeringan ekstrem dalam waktu yang panjang. Adapun BMKG memprediksi musim kemarau dimulai pada periode April – Juni 2026 pada sebagian wilayah Indonesia yang diawali dari Nusa Tenggara kemudian bertahap ke wilayah Indonesia lainnya seperti Bali, Jawa, dan Sumatera. Dan sebagian besar wilayah Indonesia diprediksi mengalami puncak kemarau pada bulan Agustus 2026. Anomali cuaca ini bisa menekan produktivitas sektor peternakan nasional yang berdampak terhadap kesulitan ketersediaan hijauan hingga menyebabkan penurunan produktivitas sapi perah dan sapi potong.

hb 1
Prediksi musim kemarau tahun 2026 di Indonesia

Bagi sektor usaha peternakan, baik sapi potong maupun sapi perah, kondisi iklim yang ekstrem ini membawa tantangan besar yang berpusat pada dua masalah utama, ketersediaan pakan dan air minum serta gangguan heat stress (stres panas). Secara teknis, kondisi El Nino ini menganggu produktivitas sapi melalui dua mekanisme, secara langsung mengganggu fisiologis sapi dan secara tidak langsung merusak ekosistem lingkungan sebagai penunjang kehidupan ternak. Meskipun manifestasi dampak pada kedua jenis peternakan ini cukup berbeda namun tetap memberikan kerugian yang tinggi.

1. Sapi mengalami heat stress

Ketika El Nino memicu kenaikan suhu ekstrem dan radiasi matahari yang kuat, sapi mengalami lonjakan nilai Temperature Humidity Index (THI). Sapi memiliki kapasitas berkeringat yang sangat terbatas jika dibandingkan dengan manusia. Ketika suhu lingkungan melewati batas kenyamanan ternak, metabolisme internal ternak mulai terganggu. Batas aman Temperature Humidity Index (THI) untuk sapi adalah di bawah 68. Jika angka THI melebihi batas tersebut, sapi akan mulai mengalami heat stress (stres panas) yang dapat menurunkan produksi susu dan kualitas reproduksi.

hb 2
Tabel Temperature Humidity Index

Respon fisiologis yang terjadi saat sapi mengalami stres diantaranya:

• Peningkatan respirasi (Panting): Untuk membuang panas dari dalam tubuh, sapi akan bernapas lebih cepat dan terengah-engah. Mekanisme ini menguras banyak energi yang seharusnya digunakan untuk produksi daging atau susu.
• Tubuh sapi secara otomatis mengalirkan darah lebih banyak ke area permukaan kulit untuk membuang panas sehingga suhu permukaan tubuh meningkat. Maka itu, aliran darah ke organ dalam untuk proses metabolisme (seperti ambing dan saluran pencernaan) menjadi berkurang drastis.
• Penurunan nafsu makan): Karena proses pencernaan di dalam rumen menghasilkan panas fermentasi yang tinggi (heat increment), sapi akan mengurangi konsumsi pakannya (dry matter intake) untuk menekan produksi panas dari dalam tubuh. Kurangnya konsumsi pakan artinya akan berakibat kurangnya asupan nutrisi untuk produksi.
• Stres panas memicu pelepasan hormon kortisol dan ACTH secara berlebihan. Hormon stres ini menghambat sekresi Luteinizing Hormone (LH) dan estrogen, membuat kualitas sel telur menurun, memicu silent heat, serta meningkatkan risiko kematian embrio sapi. Hormon kortisol juga dapat menekan sistem kekebalan ternak. Ditambah situasi kelembapan lingkungan kandang yang tinggi mendukung pertumbuhan patogen (bakteri, jamur, virus) yang dapat memicu masuknya serangan penyakit pernapasan dan pencernaan bahkan penyakit viral yang sulit ditangani.

hb 3
Sapi perah (terutama bangsa Friesian Holstein) sangat sensitif terhadap perubahan suhu dan kelembapan

2. Krisis kuantitas dan kualitas pakan hijauan serta pasokan air minum

Kemarau panjang dan curah hujan di bawah normal mengganggu produktivitas lahan hijauan (seperti rumput gajah, odot, atau raja). Peternak terpaksa mencari alternatif pakan berkualitas rendah seperti jerami kering atau limbah pertanian yang dikeringkan. Akibat kualitas dan kuantitas hijauan yang menurun, ditambah penurunan nafsu makan akibat cuaca panas, pertambahan bobot badan harian (ADG) sapi potong akan terganggu yang otomatis juga meningkatkan biaya operasional. Konsumsi pakan serat kasar berkualitas rendah secara terus-menerus tanpa suplementasi yang baik berisiko menyebabkan gangguan pencernaan seperti sembelit akut atau kembung/timbani.

Sapi membutuhkan air minum sekitar 40–60 liter/ekor/hari, bahkan lebih saat musim kemarau. Mengeringnya sumber-sumber air juga mengharuskan peternak mengeluarkan biaya tambahan untuk membeli air bersih demi mencegah dehidrasi pada ternak. Ditambah lagi, keterbatasan air bersih untuk sanitasi kandang dan pencucian ambing meningkatkan risiko infeksi bakteri penyebab mastitis pada farm sapi perah. Kualitas air yang kurang baik juga mempermudah penularan penyakit.

Dampak terhadap Produktivitas Ternak

Berikut penjelasannya dampak negatif pada ternak sapi akibat stres yang terjadi jika tidak segera dikendalikan :

Sapi potong

Efek yang terjadi dari stres kronis akibat cuaca ekstrem adalah terbentuknya daging Dark, Firm, Dry (Gelap, Keras/Kaku, dan Kering). Saat sapi mengalami stres panas berkepanjangan dan kekurangan nutrisi, tubuh sapi terus-menerus membakar cadangan energi ototnya yang disebut glikogen. Ketika sapi dipotong dalam kondisi kehabisan glikogen, proses pembentukan asam laktat di dalam daging saat post-mortem menjadi terhambat. pH daging menjadi di atas angka 5,8–6,0 (normalnya sekitar 5,4–5,7). pH yang tinggi ini membuat tekstur daging menjadi sangat kaku (firm), permukaannya terlihat kering (dry), dan warnanya menjadi merah tua kehitaman (dark). Proses pengempukan daging secara alami pascapemotongan juga sangat bergantung pada enzim protease di dalam otot (seperti calpain). Enzim ini bekerja optimal pada kisaran pH normal. Karena pH daging sapi yang stres cenderung tinggi, kerja enzim ini terganggu sehingga daging gagal mengempuk selama proses pelayuan.
Keterbatasan air minum bersih selama sapi mengalami stres membuat sel-sel otot sapi kehilangan hidrasi optimalnya, mengganggu struktur serat-serat daging, dan membuatnya lebih kenyal/keras saat dikunyah.

hb 4
Daging Dark, Firm and Dry

Sapi perah

Sapi perah memiliki Thermal Neutral Zone (zona suhu nyaman) yang relatif rendah (sekitar 13°C – 25°C). Kenaikan suhu udara akibat kemarau akan memicu stres panas, yang secara langsung menurunkan konsumsi pakan. Akibatnya, produksi susu harian bisa merosot antara 10% hingga 30%. Stres panas mengganggu proses fisiologis di dalam kelenjar ambing. Kandungan lemak susu dan kadar protein padat bukan lemak (Solid non-fat) biasanya akan menurun, sehingga menurunkan nilai harga susu di industri pengolahan. Saat kepanasan, sapi malas memakan hijauan dan biasanya porsi konsentrat akan ditingkatkan agar sapi tetap mau makan. Kurangnya serat ditambah perilaku sapi yang suka memilih pakan akan mengganggu pH rumen menjadi terlalu asam. Kondisi ini akan membunuh bakteri penghasil asam asetat sebagai bahan baku utama pembentuk lemak susu di ambing. Selain itu, saat kondisi stres, untuk mencukupi kebutuhan energinya, tubuh sapi mengambil pasokan asam amino yang seharusnya dikirim ke ambing untuk diubah menjadi protein susu. Akibatnya, kadar protein susu menurun sehingga membuat susu menjadi lebih encer.

Strategi Pengendalian di Situasi Perubahan Cuaca Ekstrem

Untuk meminimalkan kerugian dan menjaga produktivitas ternak selama masa kemarau ekstrem akibat El Nino, manajemen peternakan harus disesuaikan secara ketat.

Treatment pendinginan lingkungan

Pendinginan bisa dilakukan dengan bantuan foggers, mist drop atau sprinkler yang menyemprotkan air ke lingkungan atau langsung ke tubuh sapi. Foggers bekerja menyebarkan tetesan air yang sangat halus, cepat menguap dan dapat segera mendinginkan udara di sekitarnya. Mist drop memiliki prinsip kerja yang sama dengan foggers namun memiliki butiran air yang lebih besar. Sedangkan sprinkler, tetesan airnya lebih besar dan langsung membasahi kulit dan rambut ternak. Penggunaan sprinkler yang dikombinasikan dengan kipas (fan) memberikan hasil yang efektif untuk menurunkan suhu tubuh ternak dan meningkatkan nafsu makannya.

hb 5
Penggunaan kipas menggantung (Multifan Basket Medion) untuk menciptakan aliran udara sejuk di kandang

Tempat bernaung yang teduh

Pastikan bahan atap yang digunakan tidak menyerap panas dan hindari menggunakan bahan seng dan asbes. Ventilasi kandang pun perlu mencukupi supaya sirkulasi udara berjalan dengan baik. Kandang closed house terutama untuk sapi perah bisa menjadi alternatif solusi dalam menciptakan lingkungan yang terkontrol, dengan tujuan meningkatkan kesejahteraan hewan, mengurangi stres, dan pada akhirnya meningkatkan produksi susu. Sistem ini biasanya dilengkapi dengan pendingin udara (cooling pad), pengatur suhu dan kelembapan, serta sistem ventilasi yang terkontrol. Menciptakan iklim mikro dingin di dalam kandang bisa dengan menggunakan cooling pad dan kipas. Cooling pad akan membantu menyediakan udara yang sejuk dan nyaman bagi sapi dengan cara mendinginkan ruangan kandang. Sedangkan kipas dapat membantu untuk mendistribusikan angin di dalam kandang lebih merata dan mengeluarkan udara panas dari dalam kandang.

Handling ternak

Handling saat memindahkan ternak atau vaksinasi perlu dilakukan dengan kehati-hatian dan tidak diperlakukan kasar. Setiap dilakukan penalian, pemasangan eartag, pemotongan tanduk dilakukan dengan baik. Pastikan tidak terlalu melukai atau menyakiti ternak. Hindari melakukan handling atau treatment tersebut saat sapi stres atau suhu cuaca sedang tinggi. Setelah perlakuan, segera sediakan pakan dan air minum segar serta berikan Bioselvita dan Transolit sebagai penambah asupan energi. Lakukan pemeriksaan dan segera berikan penanganan pada ternak yang terlihat kelelahan atau dehidrasi. Ternak perlu diisolasi kemudian dilakukan penanganan atau pengobatan hingga pulih.

Mengurangi kepadatan kandang

Kepadatan kandang yang tinggi di dalam satu pen membuat kapasitas oksigen di area pen kandang berkurang dan suhu di sekitarnya menjadi jauh lebih panas daripada suhu di luar. Terlebih lagi penumpukan feses akan menimbulkan bau amonia yang tinggi dan memicu infeksi saluran pernapasan. Sebisa mungkin kurangi kepadatan kandang dan gunakan Ammotrol untuk membantu mengurangi bau amonia di kandang.

Pemberian pakan dan air minum

Kombinasikan hijauan atau jerami yang ada penambahan pakan konsentrat lebih padat energi dan protein serta bantu dengan penambahan probiotik seperti Bacillus sp. (Probiomix) untuk menjaga efisiensi pencernaan. Dari segi fisik, sapi menyukai pakan yang masih baru/segar. Pastikan kualitas fisik pakan sapi, terutama konsentrat, masih bagus dan segar. Jika perlu lakukan pembolak-balikkan pakan konsentrat sesering mungkin agar sapi tertarik untuk makan. Perubahan pemberian pakan berikutnya dilakukan secara bertahap. Tambahkan premiks Mix Plus Cattle Pro ke dalam konsentrat atau pakan sapi untuk membantu meningkatkan konsumsi serta menyediakan kebutuhan nutrisi mikro bagi sapi perah. Berikan pakan saat waktu cuaca lebih sejuk seperti pagi hari mulai jam 06.00-07.00 dan sore hari jam 16.00-18.00. Jika perlu buatkan cadangan pakan menggunakan metode silase menjelang puncak kemarau tiba. Berikan air minum segar dan bersih secara adlibitum untuk mencegah dehidrasi pada tubuh ternak. Transolit bisa dicampurkan melalui air minum untuk mengatasi dehidrasi dan stres saat sapi sulit untuk makan.

Pemberian suplemen

Tambahkan elektrolit, vitamin, dan antioksidan untuk membantu ketahanan tubuh sapi. Transolit sebagai suplemen yang mengandung vitamin, mineral dan asam amino dapat membantu mencegah atau mengatasi stres pada ternak dan juga menjaga produktivitas ternak tetap terjaga. Selain saat kondisi heat stress, Transolit dapat diberikan juga ketika risiko ternak menghalami stres cukup tinggi seperti pasca vaksinasi atau proses transportasi. Vitamin C yang berperan sebagai antioksidan dalam menekan produksi hormon stres, serta vitamin B1 dapat membantu metabolisme energi dan memulihkan sistem saraf. Lalu juga mengandung L Carnitine untuk mengoptimalkan pembakaran lemak menjadi energi dan mempercepat pemulihan tubuh.

Fenomena kemarau yang berkepanjangan menjadi tantangan bagi sektor peternakan karena dapat menyebabkan masalah heat stress hingga terganggunya ketersediaan pakan berkualitas. Strategi dalam menghadapi masalah ini ialah dengan melakukan mitigasi menyeluruh dari segi manajamen handling, modifikasi mikroklimat, manajemen pakan dan air minum serta didukung pemberian suplementasi dengan baik. Sehingga dapat menciptakan kesejahteraan ternak dan menyelamatkan nilai ekonomi usaha peternakan. Semoga bermanfaat.

Topik Terkait

Bagikan Artikel:
Berlangganan sekarang

Update informasi terkini seputar peternakan dan hewan kesayangan.

Artikel Lainnya

Cari Informasi yang Anda Butuhkan