Cacingan pada Ayam Petelur : Dampak terhadap Performa dan Strategi Pengendaliannya

Table of Contents

Cacingan merupakan salah satu penyakit parasit pada ayam yang perlu diperhatikan dalam industri perunggasan karena memberikan dampak yang cukup signifikan terhadap kesehatan, kesejahteraan, dan produktivitas ternak. Kerugian langsung yang terjadi akibat cacingan antara lain penurunan FCR (Feed Convertion Ratio), berat badan ternak, produksi telur, kualitas telur, dan kematian ternak pada kasus infeksi kronis. Sementara kerugian tidak langsung antara lain kerusakan mukosa usus akibat infestasi cacing di saluran pencernaan dan adanya efek imunosupresan, yang akan meningkatkan kerentanan terhadap infeksi penyakit lain. 

au 1
Ayam cacingan terlihat pucat dan kurus.

Berdasarkan temuan gejala klinis dan perubahan patologi anatomi yang dilakukan oleh tim personil lapang Medion, dalam tiga tahun terakhir pada masa sebelum produksi ayam layer, persentase kejadian kasus cacingan pada tahun 2023, 2024, dan 2025 secara berurutan mencapai 2.04%, 2.66%, dan 1.86%, sementara persentase kejadian kasus pada masa produksi ayam layer pada 3 tahun tersebut secara berurutan mencapai  13.35 %, 13.12%, dan 12.76%.  Kasus cacingan yang lebih banyak terjadi pada masa produksi ayam layer berkaitan dengan siklus hidup cacing yang cukup lama dan kemungkinan adanya paparan berulang pada fase tersebut.  

Faktor yang secara langsung mempengaruhi kejadian infeksi parasit pada ayam antara lain hospes, parasit, dan lingkungan. Faktor hospes antara lain jenis ayam, umur, dan jenis kelamin. Faktor parasit yang berpengaruh antara lain cara penularannya, daya tahan hidup parasit di lingkungan, patogenisitas, dan imunogenisitas. Faktor lingkungan yang berpengaruh antara lain cuaca, suhu,  kelembaban, manajemen kandang, vektor atau hospes intermediet, dan penggunaan obat antelmintik.

Ketika curah hujan tinggi, diikuti dengan suhu lingkungan yang fluktuatif dan kelembaban udara yang tinggi, maka akan menciptakan lingkungan yang sesuai untuk perkembangan telur cacing di lingkungan menjadi fase infektif. Kondisi lembab juga disukai oleh vektor cacing seperti kumbang, lalat, siput, dan bekicot. 

Kejadian infeksi cacing lebih banyak terjadi pada unggas yang dipelihara di kandang terbuka (open house) dan kandang semi-tertutup (semi-clouse house) dibandingkan unggas yang dipelihara di kandang tertutup (close house). Selain itu, sistem pemeliharaan postal juga membuat unggas lebih rentan terkena infeksi cacing jika dibandingkan dengan sistem pemeliharaan menggunakan kandang baterai. Sistem pemeliharaan postal menyebabkan unggas melakukan kontak langsung dengan kotoran dan alas kandang yang mengandung stadium infektif telur cacing. Pada kandang terbuka atau kandang semi-tertutup unggas juga lebih rentan terkena infeksi cacing karena pengendalian lingkungan, terutama terhadap vektor cacing yang lebih sulit jika dibandingkan dengan sistem pemeliharaan kandang tertutup.

au 2
Sistem pemeliharaan postal pada kandang open house
au 3
Sistem pemeliharaan menggunakan kandang baterai pada kandang open house

Sistem pemeliharaan ternak menjadi faktor yang perlu diperhatikan karena penularan penyakit cacingan yang dapat terjadi secara horizontal baik secara langsung, melalui ayam yang sakit ke ayam yang sehat, ataupun secara tidak langsung melalui kontaminasi lingkungan, peralatan dan personil kandang, serta vektor. Telur cacing yang terdapat pada feses ayam yang mengalami cacingan dapat mengkontaminasi litter, peralatan kandang, dan lingkungan sekitar kandang. Pada kondisi tersebut, ayam sehat yang tidak sengaja tertelan telur menjadi terinfeksi. Siklus ini akan berulang jika tidak diikuti dengan upaya pengendalian.

au 4
Mekanisme penularan cacing secara horizontal.

Pada ayam layer, kerugian akibat cacingan tidak hanya menyebabkan penurunan produksi telur sebesar 5-20%, namun juga menimbulkan kondisi imunosupresi yang menyebabkan kerentanan terhadap infeksi penyakit lain. Berdasarkan data yang dikumpulkan oleh tim personil Medion di lapangan, kasus cacingan pada ayam layer selalu diikuti dengan infeksi penyakit lain baik penyakit bakterial, viral, racun jamur, ataupun infeksi jenis parasit lainnya. Selama 3 tahun terakhir, temuan kasus lapangan menunjukkan ayam layer yang terdiagnosa cacingan berdasarkan gejala klinis dan perubahan patologi anatomi juga menunjukkan infeksi penyakit lain (koinfeksi) seperti CRD, Coryza, Colibacillosis, NE, Fowl Kolera, Coccidiosis, Ektoparasit, AI, ND, POX, IB dan Mycotoxicosis.

au 5 e1775440753166

Secara umum unggas dapat terinfeksi berbagai jenis cacing seperti cacing gilig (nematoda), cacing pita (cestoda), cacing pipih/daun (trematoda), dan Acanthocephala. Namun, kasus cacingan yang paling sering ditemukan dilapangan yaitu cacing gilig (nematoda), cacing pita (cestoda), dan cacing Acanthocephala.

au 6
Cacing Gilig (Nematoda)
au 7
Cacing Pita (Cestoda)
au 8
Cacing Acanthocephala

Temuan kasus tersebut juga dijelaskan oleh Abd El-Ghany (2022), yang menyebutkan bahwa infeksi cacing pada saluran pencernaan unggas, terutama yang disebabkan oleh cacing gilig, merupakan kelompok parasit yang paling banyak menginfeksi unggas baik dari segi jumlah spesies maupun tingkat keparahan infeksinya. Beberapa famili yang umum ditemukan antara lain Heterakidae, Capillaridae, Syngamidae, dan Trichostrongylidae. Selain cacing gilig, cacing pita juga banyak ditemukan pada unggas dengan tingkat patogenisitas yang bervariasi, mulai dari ringan hingga berat. Cacing pita yang menginfeksi unggas umumnya berasal dari tiga famili utama, yaitu Davaineidae, Dilepididae, dan Hymenolepididae, dengan beberapa genus yang sering dilaporkan seperti Raillietina, Davainea, dan Hymenolepis. Sementara itu, cacing pipih/daun memiliki spesifisitas inang yang lebih rendah dibandingkan cacing gilig dan cacing pita pada unggas yang diternakan. Temuan kasus Acantochepala juga sudah banyak di temukan di lapangan. Awal pelaporan kasus tersebut di Indonesia terjadi di Yogyakarta dan beberapa daerah di Jawa Tengah seperti Magelang, Klaten, dan Solo. Beberapa tahun belakangan, tim personil lapang Medion juga telah menemukan infeksi cacing Acantochepala di daerah Jawa Timur, yaitu Blitar dan Mojokerto.

Cacing Gilig (Nematoda)

Cacing gilig (nematoda) merupakan jenis cacing yang memiliki bentuk tubuh bulat, memanjang, dan tidak memiliki proglotid (segmen tubuh). Ukuran cacing dewasa umumnya berkisar antara 6–13 cm, dengan lokasi predileksi (tempat kesukaan) utama di saluran pencernaan, terutama usus halus dan sekum. Beberapa spesies cacing gilig yang sering menginfeksi unggas antara lain Heterakis gallinarum, Capillaria sp., Ascaridia galli, Oxyspirura sp., Syngamus trachea, dan Trichostrongylus sp., yang masing-masing dapat menimbulkan gangguan kesehatan dengan tingkat keparahan yang berbeda.

Siklus hidup cacing gilig pada unggas umumnya bersifat langsung, yaitu tidak memerlukan vektor/inang perantara. Penularan terjadi melalui konsumsi pakan, air minum, litter, atau bahan lain yang terkontaminasi feses yang mengandung telur infektif. Telur cacing yang keluar bersama feses akan berkembang di lingkungan dan menjadi infektif dalam waktu sekitar 14 hari. Ketika telur infektif tersebut tertelan oleh ayam, larva akan berkembang di dalam tubuh hingga menjadi cacing dewasa dalam waktu kurang lebih 45 hari, sehingga memungkinkan terjadinya infeksi berulang apabila sanitasi kandang tidak terjaga dengan baik.

Cacing Pita (Cestoda)

Cacing pita (cestoda) merupakan cacing yang berbentuk pipih dan memiliki proglotid (segmen tubuh), dengan panjang tubuh dewasa dapat mencapai sekitar 25 cm. Cacing ini umumnya hidup di usus halus dan bersifat hermaprodit (memiliki dua jenis kelamin dalam satu tubuh, jantan dan betina), serta memiliki alat penghisap dan kait yang digunakan untuk melekat pada dinding usus inangnya. Beberapa spesies yang sering menginfeksi unggas antara lain Raillietina sp., Davainea sp., Hymenolepis sp., dan Moniezia sp. Berbeda dengan cacing gilig, siklus hidup cacing pita memerlukan vektor/inang antara. Telur cacing yang keluar bersama feses akan berkembang dalam waktu sekitar 5 hari, kemudian termakan oleh inang antara seperti serangga, dan selanjutnya berkembang menjadi bentuk infektif dalam waktu sekitar 12–18 hari sebelum akhirnya dapat menginfeksi unggas ketika inang antara tersebut tertelan.

Cacing Acanthocephala

Cacing Acanthocephala merupakan kelompok cacing dengan filum tersendiri dan berbeda dari jenis cacing lain yang umum menginfeksi unggas. Berdasarkan literatur yang disampaikan oleh McMullin (2020) dan Otranto (2024), kelompok ini memiliki kekerabatan yang cukup dekat dengan cacing gilig. Cacing Acanthocephala dikenal sebagai “thorny-headed worms” atau cacing berkepala duri, karena memiliki struktur khas berupa proboscis, yaitu semacam belalai atau tonjolan di bagian kepala (anterior) yang dilengkapi dengan duri-duri kecil untuk menempel pada dinding usus inangnya. Cacing Achantochepala memiliki siklus hidup yang kompleks dengan bantuan vektor/inang perantara, yaitu arthopoda.

Telur cacing yang tertelan oleh inang perantara akan menetas, kemudian larvanya (disebut acanthor) berpindah ke dalam tubuh arthropoda dan berkembang menjadi bentuk infektif (disebut cystacanth) dalam waktu sekitar 1–3 bulan. Ayam atau inang definitif akan terinfeksi ketika memakan arthropoda tersebut. Setelah masuk ke dalam saluran pencernaan, akan menempel pada dinding usus dan berkembang menjadi cacing dewasa. Waktu yang dibutuhkan sejak infeksi hingga cacing mulai menghasilkan telur berkisar antara 5 hingga 12 minggu.

Patogenesa Cacingan Hingga Dampaknya Terhadap Performa Unggas

Secara umum, infeksi cacing pada ayam, terutama spesies yang menyerang organ pencernaan menunjukkan dampak yang signifikan terhadap performa dan kesehatan ayam karena kerusakan mukosa saluran pencernaan dan efek imunosupresan. Telur cacing fase infektif yang termakan oleh ayam akan berkembang di saluran pencernaan ayam, kemudian akan berkembang menjadi cacing dewasa. Cacing yang berkembang di usus ayam, akan menyerap nutrisi yang dikonsumsi oleh ayam dengan cara merusak mukosa usus dan sistem kekebalan lokal saat melekatkan diri ke lumen dinding usus. Kondisi tersebut yang akan memicu kerusakan hingga disfungsi utama usus untuk mencerna pakan. Selain itu, akan muncul rasa tidak nyaman pada ayam akibat aktivitas cacing di sepanjang saluran pencernaannya. 

Spesies cacing gilig, seperti Ascaridia galli yang memiliki siklus hidup tanpa vektor/inang perantara selain merusak mukosa usus ayam, juga akan menjadikannya sebagai tempat untuk perkembangan larva, sehingga dampak yang ditimbulkan akan semakin banyak. Nutrisi dari makanan yang seharusnya dimanfaatkan oleh ayam untuk masa pertumbuhan dan juga proses produksi, tidak bisa terserap optimal akibat cacing yang bermanifestasi di dalam usus. Kerusakan mukosa yang terjadi juga menyebabkan penurunan fungsi usus seperti penyerapan cairan dan juga sistem imun lokal di saluran pencernaan, sehingga ternak yang terinfeksi cacing akan mengalami diare dan kondisi imunosupresi.

au 9 e1775441124539
Adanya benjolan putih berisi jaringan mati dan sel darah putih pada mukosa usus, serta peradangan usus akibat cacingan.

Pengendalian Cacingan Pada Ayam Petelur

Cacingan pada unggas dapat dikendalikan dengan melakukan pencegahan dan juga pengobatan. Pencegahan dapat dilakukan dengan langkah-langkah sebagai berikut:

1. Pemberian Obat Cacing secara Teratur

Pemberian obat cacing pada ayam untuk pencegahan dapat dimulai sejak umur 4 minggu dan dilakukan secara berkala. Berdasarkan jenis cacing, pengulangan pemberian obat untuk pencegahan infeksi cacing gilig dapat dilakukan setiap 1–2 bulan, sedangkan untuk cacing pita dilakukan setiap 1 bulan sekali. Rekomendasi ini didasarkan dengan siklus hidup masing-masing jenis cacing. Berdasarkan sistem perkandangan, pengulangan pemberian obat cacing pada kandang postal dianjurkan setiap 1 bulan sekali, sedangkan pada kandang baterai setiap 3 bulan sekali. Hal ini disebabkan oleh tingginya risiko kontak antara ayam dan agen infeksi di kandang postal, sehingga pengulangan perlu dilakukan lebih sering. Pemberian obat cacing dapat dilakukan melalui pakan maupun air minum. Salah satu produk antelmintik yang diproduksi oleh Medion dan dapat diberikan melalui air minum adalah Wormisol. Produk ini efektif terhadap infeksi cacing yang umum menyerang unggas, seperti cacing gilig, cacing pita, dan Acanthocephala yang bekerja dengan cara melumpuhkan cacing serta merusak lapisan luar tubuh cacing dewasa di dalam usus, sehingga cacing akan keluar bersama feses dalam bentuk potongan tubuh. Wormisol diberikan melalui air minum yang harus dihabiskan dalam waktu 4 jam, dengan dosis 1 mL/L air minum atau 0,2 mL/kg bobot badan.

au 10
Wormisol untuk pengendalian cacingan pada ternak

2. Pengendalian Vektor

Beberapa jenis cacing merupakan parasit yang memerlukan vektor/inang perantara untuk menyelesaikan siklus hidupnya. Oleh karena itu, pengendalian penyakit cacingan pada ayam juga harus memperhatikan keberadaan vektor, seperti lalat, kumbang, siput, dan bekicot. Pengendalian vektor, khususnya lalat, dapat dilakukan dengan penggunaan insektisida atau obat anti-lalat seperti Larvastop, Larvarox, and Flytox, yang efektif dalam mengendalikan populasi lalat di lingkungan kandang.

3. Manajemen dan Biosecurity

Penerapan manajemen pemeliharaan dan biosecurity yang baik merupakan langkah penting dalam pengendalian berbagai penyakit, termasuk cacingan. Pembersihan feses secara rutin dapat membantu memutus rantai penularan cacing serta mengurangi populasi vektor seperti lalat. Selain itu, menjaga lingkungan kandang agar bebas dari genangan air dan rumput liar juga penting untuk mencegah perkembangan vektor. Sanitasi dan desinfeksi kandang, peralatan, serta personel harus dilakukan secara berkala. Manajemen litter juga perlu diperhatikan, terutama pada sistem perkandangan postal, untuk menjaga kebersihan dan menekan perkembangan agen infeksi.

4. Monitoring Rutin Infeksi Cacing

Monitoring rutin infeksi cacing merupakan salah satu langkah penting dalam pencegahan dan pengendalian penyakit cacingan pada ayam. Monitorong dapat dilakukan di laboratorium, salah satunya di MediLab untuk mendeteksi keberadaan telur cacing dalam feses. Metode pemeriksaan dapat bersifat kualitatif untuk mengidentifikasi jenis cacing yang menginfeksi, serta kuantitatif untuk menentukan tingkat keparahan infeksi. Sampel yang digunakan berupa feses segar, terutama dari ayam yang menunjukkan gejala cacingan. Pada praktiknya, pemeriksaan ini umumnya dilakukan sebelum pemberian obat cacing dan setelah pengulangan pengobatan, guna mengevaluasi efektivitas terapi yang telah diberikan.

Pengobatan cacingan pada ayam dapat dilakukan melalui pemberian obat cacing pada unggas yang telah terdiagnosis, baik melalui pemeriksaan feses maupun bedah bangkai. Setelah pengobatan dilakukan, pemberian obat cacing secara rutin tetap dianjurkan sebagai upaya pencegahan terhadap kemungkinan infeksi ulang. Selain itu, perlu dilakukan pemeriksaan feses secara berkala untuk memantau keberadaan infeksi, serta tetap menjaga pengendalian vektor, manajemen pemeliharaan, dan penerapan biosecurity yang baik.

Cacingan pada ayam layer umumnya bukan merupakan penyakit yang bersifat mematikan jika dibandingkan dengan penyakit viral maupun bakterial. Namun, dalam upaya mengoptimalkan performa produksi dan menjaga kesehatan ternak, pengendalian infeksi cacing tetap perlu menjadi perhatian. Hal ini terutama karena efek imunosupresif yang ditimbulkan dapat menurunkan daya tahan tubuh ayam, sehingga meningkatkan kerentanan terhadap infeksi penyakit lainnya.

Referensi tulisan :

Abd El-Ghany, W. A. (2022). An updated insight into the gastrointestinal helminthoses of poultry: A review. Annals of Parasitology, 68(4).
Belo, A. M., Suratma, I. N. A., & Oka, I. B. M. (2023). Prevalensi infeksi cacing nematoda gastrointestinal pada ayam petelur di Desa Peninjoan, Kecamatan Tembuku, Kabupaten Bangli, Bali. Buletin Veteriner Udayana, 15(1), 20-27.
Hambal, M., Efriyendi, R., Vanda, H., & Rusli, R. (2019). 34. Anatomical Pathology And Histopathological Changes Of Ascaridia Galli In Layer Chicken. Jurnal Medika Veterinaria, 13(2), 239-247.
McMullin, P. F. (2020). Diseases of poultry 14th edition.John Wiley & Sons
Otranto, D., & Wall, R. (2024). Veterinary parasitology. John Wiley & Sons.
Sanchez-Godoy, F. D., Martinez-Guzmán, J. R. E., Hernandez-Castro, R., Martinez-Hernandez, F., Urquiza-Bravo, & Hernandez-Velasco, X. (2024). Acanthocephaliasis by Plagiorhynchus sp.(Acanthocephala: Plagiorhynchidae) associated with necrotic enteritis in quetzals (Pharomachrus mocinno) maintained in captivity. Parasitology International, 103, 102954.
Shifaw, A., Feyera, T., Walkden-Brown, S. W., Sharpe, B., Elliott, T., & Ruhnke, I. (2021). Global and regional prevalence of helminth infection in chickens over time: a systematic review and meta-analysis. Poultry Science, 100(5), 101082.

Share Article:
Subscribe Now

Latest updates on livestock and pet care.